Pak Habibie Minta Saya Hormati Perempuan

Presiden Ke-3 Republik Indonesia Prof. Dr. BJ Habibie telah ke-4 kalinya meminta saya selaku komponis untuk membuat musik untuknya. Kali ini untuk memperingati 20 tahun Reformasi di Indonesia.

Pertunjukan perdananya sekaligus untuk merayakan hari ulangtahun almarhumah istrinya tercinta, Hasri Ainun Besari bulan depan, Agustus 2018 dan diproduksi oleh Yayasan Habibie-Ainun.

Di karya ini Habibie meminta saya untuk fokus ke jasa para perempuan sekitar dan setelah tahun 1998. Untuk itu saya kini sedang menyelesaikan “Sebuah Simfoni Tentang Perempuan”.

“Terus terang saya masih belum tahu judul karya tersebut sampai kemarin. Padahal musiknya sudah 95 persen kelar, tinggal beberapa detil saja harus dibenahi. Daripada terus pusing, saya nge-tweet untuk meminta opini para followers (atau yang saya selalu panggil ‘tweehearts‘) saya. Saya beri 4 opsi judul, dan ‘Sebuah Simfoni Tentang Perempuan’ mendapatkan voters terbanyak”, demikian tweet saya untuk meminta pendapat teman-teman.

Formasi instrumental “Sebuah Simfoni Untuk Perempuan” adalah untuk viola (biola alto) solo dan 8 instrumen. Instrumen ini, tidak seperti biola biasa, tidak banyak yang memainkan di Indonesia, apalagi sampai taraf seorang virtuoso.

Solois violanya tidak tanggung-tanggung, Dr. Adam Cordle dari Amerika Serikat, salah satu pemain viola muda terbaik saat ini di Amerika.

Juga, di tengah-tengah karya ini akan ada seorang narrator yang membacakan beberapa nama perempuan serta jasa mereka di era Reformasi ini. “Siapa saja nama-nama perempuan yang tangguh dan berjasa itu, datang aja saksikan dong,” demikian selalu saya katakan sewaktu ditanya detilnya.

Sebelum karya ini dimainkan akan ditampilkan juga para pemenang kompetisi piano “Ananda Sukarlan Award” yang sedang diselenggarakan minggu ini di Institut Francais (Jl. MH Thamrin), Jakarta, dan grand finalnya akan diadakan hari Minggu 15 Juli sepanjang hari mulai pukul 11 pagi. Janji deh, acara kompetisi sudah kelar sebelum final piala dunia sepakbola mulai.

Kliping: Ananda Sukarlan Kumpulkan Pianis Terbaik Indonesia

Kompetisi piano paling bergengsi dan tangguh buat para pianis muda, Ananda Sukarlan Award (ASA) kembali akan diselenggarakan untuk ke-6 kalinya tanggal 12-15 Juli ini.

Mengambil tempat di Institut Francais d’Indonesie (IFI) Jakarta, kompetisi ini sejak 2008 telah melahirkan pianis-pianis terkemuka seperti Anthony Hartono yang kini mengambil kuliah S2 di Sibelius Academy (salah satu universitas terbaik di Eropa), serta Randy Ryan lulusan Juilliard School of Music.

Maestro Piano Ananda Sukarlan mengatakan tahun ini juga Edith Widayani (pemenang ASA 2010) telah berhasil meraih Doktor di bidang musik di Amerika, serta menerima fellowship “Global Leaders Program”. Pemenang ASA akan mendapatkan beasiswa untuk summer music course (kuliah musim panas) di Perancis dari IFI, dan untuk merayakan 100 tahun meninggalnya komponis Perancis Claude Debussy tahun ini, IFI juga akan memberikan trophy untuk peserta yang memainkan musik komponis Prancis terbaik. Pemenang juga akan tampil di konser yang akan dihadiri oleh Presiden ke-3 RI, BJ Habibie bulan Agustus nanti, dan diproduksi perekaman & penjualan CD permainannya, seperti yang telah dilakukan oleh para pemenang ASA sebelumnya.

“Satu hal yang tidak umum adalah adanya kategori “pianis difabel” yang akan diselenggarakan di hari terakhir, 15 Juli. Khusus untuk tahun ini ASAmembatasi untuk mereka yang mengidap sindrome dari spektrum autisme (Savant, Asperger’s, Tourettedll). Kategori ini tidak kompetitif, artinya para pianis pengidap autisme itu akan bermain 10 menit untuk menunjukkan kemampuannya tanpa berkompetisi satu dengan yang lain,” tutur Ananda pada NNC, Selasa (3/7/2018).

Ananda menjelaskan difabel itu “different abilities”. Bukan Disable , “ketidakmampuan”. Autisme, terutama Asperger’s Syndrome, itu masih tidak dikenal di masyarakat. Padahal kami pengidap spektrum itu punya kelebihan yang justru banyak orang lain gak punya. Masalahnya, kelebihan itu ada di bagian otak yang berbeda-beda: ada yang di science, seni atau olahraga. Saya juga akan memberi sedikit pengantar serta Tanya jawab kepada publik sebelum  dan sesudah para pianis autis ini tampil

Ananda menambahkan lebih dari 50 pianis muda terbaik Indonesia di bawah usia 27 tahun akan berkompetisi tahun ini. Inilah ajang terbaik untuk melihat dan mengukur kualitas pianis klasik Indonesia saat ini, yang akan diikuti pianis dari Medan, Jambi, Palembang, Makassar serta berbagai kota di pulau Jawa.

Jika Anda memerlukan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi kantor sekretariat ASA, dengan Chendra di 0818 891038. Ananda Sukarlan sendiri akan terus memperbarui kabar lewat bloganandasukarlan.com serta akun media sosialnya.

Indonesia Negara yang Paling Banyak Punya Lagu Daerah di Dunia

Lewat aku Instagram saya @anandasukarlan , saya meminta (sebetulnya menawarkan sih) IG-ers utk request lagu-lagu daerah ke saya untuk saya mainkan. Sebetulnya tujuan saya adalah lebih mengenal judul-judul lagu daerah, karena sampai saat ini dokumentasi lagu-lagu daerah Indonesia masih sangat terbatas. Boro-boro notasi atau rekamannya, judulnya saja susah didapat di google!
Anda kan tahu, saya sedang membuat satu seri “Rapsodia Nusantara”, karya-karya piano yang virtuosik yang bisa dimainkan oleh para pianis seluruh dunia (warganegara dan latar belakang budaya apa saja) di konser-konser mereka. Yaaaaa, seperti modern version dari Hungarian Rhapsody-nya Franz Liszt lah. Nah, masalahnya Nusantara itu sangat luas dan saya bakal kesulitan ke daerah-daerah untuk mendata itu semua. Untung sekarang ada YouTube dll.
Saya berterimakasih banget bahwa responnya ada ratusan. Sampai sekarang saya sudah bikin 25 nomor Rapsodia (“Rapsy” saya menyebutnya supaya pendek dan catchy), 22 di antaranya sudah dipublikasi partiturnya, dan ada belasan yang sudah direkam, baik oleh saya sendiri maupun oleh pianis lain (Henoch Kristianto yang terbanyak, dia merekam 10 nomor di CD-nya, yang menjadi bagian dari tugas akhirnya program S2-nya di Sydney Conservatory of Music).
Nah, saya jadi tahu bahwa saya banyak nggak tahunya nih. Pak BJ Habibie pernah nasehatin saya, sewaktu saya curhat ke beliau soal Rapsy (waktu itu saya baru menulis sekitar 6 atau 7): “Nah, anda mesti nulis paling sedikit 34. Kan ada 34 propinsi, ambil satu lagu dari tiap propinsi”. Padahal waktu itu no. 3 dan no. 4 saya sudah bikin dari propinsi yang sama: Maluku (no. 3 dari “Rasa Sayange” dan “Sarinande”, no. 4 dari “Buka Pintu”). Tapi ini saya baru saja dari Lombok dan dengar lagu yang khas Lombok. Padahal Lombok kan bagian dari NTB.
Juga ada IG-ers yang memberi info soal lagu-lagu dari pulau-pulau lain lah. Duh, saya jadi bersemangat nih. Tapi juga galau. Berapa Rapsy yang akan bisa saya tulis seumur hidup saya? Doain saya umur panjang ya, friends ….. dan terus bantu saya utk info tentang lagu daerah. Kalau bisa, kirim rekaman aslinya dong. Bisa lewat IG atau twitter @anandasukarlan ya …. Makasiiiihh!
Pianistically yours,
Ananda Sukarlan

Tentang Bullying dan Being Bullied

Sejak wawancara wartawan terkemuka Desi Anwar dengan saya di Metro TV tahun 2012, dimana saya membuka diri sebagai pengidap Tourette & Asperger’s Syndrome, banyak orang tua telah mengirim pertanyaan ke saya tentang kemungkinan anak mereka mengidap sindrom yang sama. Sejak itu saya telah bertemu puluhan orangtua beserta anaknya, dimana saya bisa bertukar pikiran & pengalaman. Saya bukan ahli autisme dan Asperger’s Syndrome karena sindrom itu sangat kompleks, jadi mereka dan saya sama2 belajar dari tukar pengalaman ini.
Ada satu hal yang menjadi satu paket dengan sindrome di atas, yaitu “bullying” (“perundungan” adalah istilah yang baru saya temukan dari berita di Media Indonesia. Baca juga wawancara saya dengan mereka di sini http://mediaindonesia.com/read/detail/113404-ananda-sukarlan-perundung-adalah-pengecut ) dari teman-teman sekelas mereka. Siapapun pengidap sindrom dari spektrum autisme pasti akan dianggap “aneh”, sehingga menjadi sasaran empuk untuk perundungan.
Merundung dan dirundung adalah bentuk pelecehan yang menoreh luka yang mendalam pada jiwa seseorang. Banyak anak-anak bahkan teman masa kecil yang telah menjadi dewasa masih suka bermimpi buruk baik sebagai korban ataupun keinginan untuk merundung seseorang sebagai sarana untuk menunjukkan superioritas mereka dalam situasi yang dirasakan menuntut mereka yang berasal dari rasa rendah diri mereka. Saya baru tahu setelah saya lulus sekolah, bahwa para perundung juga mengalami penderitaan, sehingga mereka butuh melakukannya. Itu sebabnya saya memaafkan mereka yang telah melakukannya ke saya waktu saya masih kecil/remaja. Bahkan saya melihat banyak kasus, korban perundungan (yang ‘survive’ tentu saja) bisa lebih tegar dalam meniti karir dan kehidupan kita, sehingga kelihatannya banyak yang lebih sukses. Paling tidak, saya melihat mereka yang dulu melakukannya ke saya, ada beberapa yang ternyata tidak terlalu sukses, paling tidak dalam karir mereka.

Tidak ada yang bisa terbiasa / menyesuaikan diri dengan baik memori perundungan ini dalam kehidupan dewasa. Trauma dan efeknya tetap bersama kita selamanya. Namun saya percaya kita bisa dengan tulus dan penuh kasih membantu seorang perundung atau korban perundungan untuk berdamai dengan dirinya sendiri, bukan dengan melecehkan atau menghakiminya tetapi dengan mendengarkan keluhan mereka dan menerima cerita mereka dengan apa adanya. Memang hal itu tidak akan secara instan “menyembuhkannya”, tapi cara kita itu diharapkan akan membantu mereka mengurangi (bukan melupakan, karena itu hal yang mustahil) trauma atas apa yang terjadi pada mereka. dan membuat memori kejadian itu menjadi tidak terlalu menyakitkan dalam kenangan mereka.
Jika seseorang terus menerus menjadi korban, ia akan dipenuhi rasa malu atau rendah diri. Jika ia (terlalu) sensitif, rasa malu itu akan membuatnya menyalahkan dan akhirnya menyerang diri mereka sendiri, bahkan sampai bunuh diri.

Jadi, bahkan jika anda tidak menyadarinya, perundung di masa kanak-kanak telah mengubah hidup mereka yang jadi korbannya … dari karier hingga hubungan antar manusia sampai usia lanjut, bahkan selamanya.

Ayo Mulai Perubahan, dari Diri Kita, dari Apa yang Kita Bisa!

Salam dari Singapura! Saat ini saya sedang di Raffles Marina, dimana kapal Rainbow Warrior dari Greenpeace sedang merapat. Rabu nanti saya akan menjadi pianis pertama di dunia yg akan main piano di atas kapal itu, dan orang Indonesia pertama yang menjadi ikon atau influencer untuk kampanye Greenpeace.

Apa yang sedang kami kampanyekan? Perusakan hutan di Papua, dan Indonesia pada umumnya. Penggundulan hutan yang sedang berlangsung selama dekade terakhir telah menjadikan Indonesia sebagai penghasil emisi karbon dioksida terbesar di dunia, dan peringkat pertama untuk intensitas emisi relatif terhadap PDB.

Sejak tahun 2014, kebakaran hutan di Indonesia memproduksi lebih banyak CO2 ke atmosfer setiap hari daripada seluruh produksi CO2 di Amerika Serikat dalam satu hari, dan secara kumulatif melampaui emisi tahunan Jerman.

Tapi bukan hanya kebakaran hutan saja yang membuat Indonesia menjadi “produsen bencana” di dunia. Pencemaran laut dan sungai juga cukup parah. Citarum, misalnya, katanya menjadi sungai terkotor di dunia menurut World Bank. Kendati merupakan sungai yang keadaan airnya jauh dari standar layak, warga di sekitar aliran sungai Citarum tetap menggantungkan hidup mereka di sini. Persoalannya ternyata tidak sederhana, menyangkut kebutuhan untuk bertahan hidup dan ikatan emosional yang sudah lama terbentuk. Kini persoalan Citarum telah diambil oleh pemerintah pusat pimpinan Jokowi, dan syukurlah proses pembersihan Citarum sedang berlangsung.

Indonesia telah menjadi korban eksploitasi Dan keserakahan penguasa begitu lama. Memperbaikinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun jika tidak ada yang tergerak untuk memulai, maka selamanya kita akan menangis merana meratapi nasib Ibu Pertiwi. Maka ketimbang terus berteriak tanpa hasil, Coba mulai duli dari Diri Kita, dari Apa yang Kita Bisa!

Pak Jokowi Ga Ade Matinye! #JKWKarajoSumbar #MalajuBasamoJokowi

Kalau gak salah, baru beberapa bulan lalu pak Jokowi meresmikan jalan tol trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar di Lampung. Pak Jokowi memang terus berupaya meningkatkan daya saing negara dengan membangun infrastruktur yang merata di seluruh Tanah Air. Tujuannya ya meningkatkan ekonomi lewat transportasi, turisme dan lain2nya. Ingat nggak, tahun lalu beliau meresmikan bandara Silangit di dekat Danau Toba? Bandar udara yang terletak di Siborong-Borong, Sumatera Utara, ini sejatinya sudah beroperasi sejak 2011. Dengan perluasan yang dilakukan, Bandara Silangit diharapkan dapat memperkuat geliat pariwisata di kawasan sekitar Danau Toba.

Bandara ini jadi gerbang bagi turis mancanegara asal Singapura, Malaysia, hingga China untuk berwisata ke Danau Toba.

Waktu tempuh menuju Danau Toba pun makin singkat. Jika menggunakan Bandara Kualanamu, turis membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai di Danau Toba. Dengan adanya Bandara Internasional Silangit, kita hanya perlu satu jam saja.

Nah, aku dengar besok pak jokowi akan meresmikan kereta bandara Padang. Terima kasih Pak Jokowi! Kalau ada link berita2 tentang ini, silakan komen disini ya, teman2

Baca juga:

Artikel dari ketua relawan Jong Melayu dan J2P yang mengapresiasi Kereta Bandara Padang

Lend Your Hand, Fight Terrorism!

ananda

Para teroris yang sudah tidak memiliki perasaan sudah tahu bahwa kita selalu melakukan hal yang sama setelah setiap serangan. Satu menit doa dalam keheningan.

Lilin, bunga, teddy bear, musik, lalu … lupa. Lupa sampai para teroris kembali menunjukkan cakarnya dan ritual yang sama pun diulang. Menit-menit hening yang biasa, lilin yang meleleh, bunga-bunga kering, teddy bears yang tertutupi debu, tindakan penolakan dalam bentuk konser musik melawan kekejaman yang kejam dan tak manusiawi.
Para sponsor teroris tertawa , memuja dewa kematian, memancarkan ancaman mereka melalui media sosial dan terus merencanakan serangan berikutnya. Mereka sadar bahwa tidak ada yang akan berubah dan seiring waktu, segalanya, tentu saja semuanya, dilupakan. Yang bagi kita kaum menengah adalah perang, bagi mereka itu adalah metode mendapatkan kekayaan dan kekuasaan.

Di banyak pemerintahan negara Eropa, mereka berkata bahwa kita harus terbiasa dengan serangan, penyiksaan, bom, penusukan, pemerkosaan, dan taktik teroris lainnya tanpa akhir yang memberi begitu banyak pendapatan kepada para penguasa zholim.

Pesan yang Anda kirimkan kepada para teroris adalah bahwa Anda terus membunuh, bahwa kita akan tetap diam, dengan menit keheningan, lilin, bunga, boneka beruang, dan konser gas air mata kita. Bahwa musik tidak dapat menjinakkan kebiadaban.

Pemerintah Eropa meminta kami, agak memaksakan, untuk terbiasa hidup dengan para teroris.

Maka janganlah kita mengulangi kesalahan yang sama. Kita cinta damai, tapi seringkali kedamaian hanya dapat diraih dengan serangan balik. Lilin, doa dan musik bukan simbol kepasrahan, tapi pemersatu kita menjadi alat Tuhan untuk memperjuangkan kedamaian tersebut.

Kini saatnya kita bangkit melawan. Pukul 19:00 hari ini yuk berkumpul bersama ribuan masyarakat lainnya dengan baju putih di Bunderan HI!

Bersama-sama kita akan menghaturkan doa untuk bangsa dan negara, untuk semua korban bom di Surabaya dan Mako Brimob, serta memberikan dukungan kepada Pemerintah dan kemanan untuk mengejar pelaku sampai tuntas, diberi hukuman seberat-beratnya. Jangan biarkan ibu pertiwi menangis lagi.

Jadilah bagian dalam gerakan ini, berhentilah cuma diam, karena #terorismusuhbersama