Seberapa ngertinya sih saya dgn musik saya sendiri?

Sering saya ditanyain nih, bukan aja ama orang-orang awam, bahkan ama kolega2 musikus: Kak (cieeee yg udah mapan dipanggil kak nih), kalau kakak main musik kakak sendiri, apa masih perlu latian? Kan harusnya udah hafal luar kepala gitu?

Nah gini dik (ihiiiy mesra yak manggil dik). Ini ya menyangkut proses kreatif penulisan itu sendiri. Musik itu pas kakak (eh “saya” aja deh. Ga usah belaga imut) terima di kepala, itu belum 100% tertulis detailnya. Itu yang namanya teknik komposisi, yang kita harus pelajari: kalau kita mendengar akord, kita mesti tau itu not-notnya apa aja? Kalau mendengar melodi, tentu ada aspek ritmenya, temponya dll., itu kan mesti diuraikan dulu untuk ditulis. Di sinilah pendidikan musik itu penting.
Nanti kalau udah ditulis, ya saya terus coba di piano. Kadang-kadang tuh ada akord dimana dibutuhkan 12 jari untuk mainnya, ya saya harus kompromi : kurangilah 2 not biar bisa dimainkan oleh jari-jariku (dan jari-jarimu ehhhhmmmm, mana dik, jari-jarinya? Aduh lentik yah). Makanya waktu saya ngomong soal disabilitas: tangan cuma satu, jari-jari cuma beberapa yang berfungsi dll., nah sebagai komponis mah kita udah ngurusin segala keterbatasan itu setiap hari! Yang dianggap “normal” yaitu 10 jari, 2 tangan itu bisa dianggap keterbatasan, cyyyn! Sering banget saya denger musik di kepala yang butuh 3 tangan buat maininnya, padahal harusnya untuk pianis “normal”.
Jadi ibaratnya arsitek nih. Dia udah punya gambaran bangunannya. Tapi kan baru pas dibangun beneran dia baru tau, steker2nya ditaruh dimana? Catnya warna apa, ornamen-ornamennya apa aja? Nah sama banget. Details seperti itu yang sering “dibuat-buat” sehingga saya sendiri sering lupa. Seringkali bahkan ditambahkan virtuositas tertentu di beberapa birama, yang tentu saja saya harus latih lah dikit-dikit untuk bisa maininnya.
Tapi ada hal yang sangat, SAANGGATTTT aneh sih, tentang komponis yg main musiknya sendiri. Emang sih, kalau musik itu baru jadi, saya hampir nggak butuh latian untuk bisa maininnya. Musiknya udah jelas, gamblang banget di otak. Tapiiiiii, coba deh saya tinggalin beberapa bulan. Itu musik jadi memudar di otakku, dan saya makin lupa makin ga tau musik itu. Jadi kebalikannya dgn musikus yg main karya orang lain: semakin waktu berjalan, biasanya musikus itu kan semakin ngerti musik yg dimainkannya, karena musik itu makin merasuk ke jiwanya, makin mendarah daging, makin “assimilated” lah. Nah, kalau saya sebagai komponis tuh kebalik. Semakin lama, musik itu semakin “menghilang” dari saya. Apalagi musik itu biasanya kan ditulis dalam situasi emosi tertentu. Dgn kata lain, musik itu ya justru mendefinisikan emosi tertentu, emosi yang kadang-kadang susah didefinisikan dengan kata-kata. Coba tanyain saya beberapa bulan lagi, saya lagi ngrasain apa waktu nulis itu pun saya udah lupa. Kadang-kadang emosi itu terlalu ga enak sehingga emang saya harus keluarin lewat musik, dan setelah saya keluarin ya kayak pipis atau itu tuh, yang ngeluarinnya harus eehhhhhhhmmmm gitu ….. kita udah ga pingin tau lagi nasibnya “keluaran” kita itu gimana. Gitchuuuuu diikkk chayankkk
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s