Ballet Indonesia, apa tuh ya?


Pagi-pagi (tepatnya siang sih) abis konser “Millenial Marzukiana” …. pingin tau (apa pingin tau banget?) hari setelah konser tuh kami musikus biasanya ngapain aja? Hehehe … ya biasanya saya nginep di hotel sih, jadi kalau paling lambat jam 9 ga bangun, saya kehilangan breakfastnya sih yang biasanya cuma ampe jam 10. Tapi ya ini masih jam 8 pagi, jadi saya ngeblog aja deh ya. Soal apa? Ga tau, orang masih ngantuk. Ya go with the flow aja deh …
Eh soal musik saya “Malin Kundang” aja deh ya, yang tadi malam pakai narasi yg dibacain Handry Satriago si cowok ngehitz yang setelah itu banyak yg ngefans deh ama dia (FYI, udah nikah tuh si doi, sis, anaknya udah 2 walaupun sekali mbrojol alias kembar. Doi millennial? Millennial dari Hong Kong kaliii). Malin Kundang itu sebetulnya aku buat untuk musik koreografi. Musik ballet lah, kerennya, kayak Swan Lake, Spartacus, Gayaneh, The Rite of Spring gitu deh. Eh kok nyebutnya komponis Rusia semua yak; itu kan bikinannya Tchaikovsky, Khachaturian, Stravinsky. Ya ok deh, “Prince of The Pagodas” deh, itu favoritku, musiknya dari Benjamin Britten untuk koreografi John Cranko, atau “Rodeo”, musik Aaron Copland untuk koreografi Agnes de Mille. Nah buat kita2 komponis ini ga gampang bikin musik untuk ballet, kalau nggak sering hangout ama koreografer dan penari-penari (yang kebanyakan pecicilan & ga bisa diem itu). Manajer saya Chendra Panatan kan juga mantan penari ballet, dan sekarang koregrafer, makanya saya jadi dapet “feel”nya musik ballet deh. Dan memang Chendra kan bikin koreografi untuk opera-opera saya, “Clara”, “Mendadak Kaya” dan terakhir ini “Saidjah dan Adinda”.
Tapi bukan hanya itu. Chendra dan penari-penari itu kan sering ngomong soal identitas ballet Indonesia. Dengerin aja, itu koreografinya Diaghilev musiknya sangat Rusia kan. Britten sangat “English” walaupun banyak pengaruh Bali-nya. Nah sampai saat ini tuh belum ada musik yang “klasik” gitu untuk koreografi ballet Indonesia. Tapi ntar dulu, jadi “ballet Indonesia” tuh apa yak? Ya intinya sama kayak Indonesian classical music lah : menggunakan teknik “Eropa”, tapi materialnya Indonesia : ceritanya dari Indonesia, musiknya juga sangat Indonesia. Nah soal gerakan penarinya, bukan saya deh ahlinya. Saya nge-quote koreografer Amerika Agnes de Mille aja ya (yang bikin “Rodeo” di atas itu loh) di program televisi “Eye on Dance” deh yang bilang: “Saya sangat tertarik dengan gerak tubuh manusia. Gerakan tidak berbohong, itu mengekspresikan kebenaran. Dan Anda bisa tahu semua tentang seseorang dari cara dia menggunakan tangan atau kaki atau kepala atau apapun.”
Bagi de Mille, akar dari ekspresi koreografinya adalah eksplorasi identitas Amerika. Di antara koreografer abad lalu, Agnes de Mille menonjol karena mengaplikasi (atau mengeksploitasi?) hal-hal, cerita & budaya Amerika yang karakteristik. Walaupun koreografer lainnya (terutama Martha Graham dan Paul Taylor) menciptakan tarian menggunakan ke-Amerika-an sebagai subjek mereka, keberagaman, wide-range-nya tarian de Mille dan tulisan / risetnya yang mengeksplorasi apa artinya menjadi orang Amerika menempatkannya di garis depan eksplorasi nasionalisme dalam tari.

Memang, de Mille awalnya mencapai ketenaran dengan “Rodeo”, karya “Wild West”nya tahun 1942-nya dari musik Aaron Copland, komponis yang juga sangat berjasa dalam “memapankan” musik klasik Amerika, yang merupakan keberhasilan pertama dalam serangkaian “balet Amerika”nya.

Konsistensi ke-Amerika-an yang eksplisit dalam karya de Mille membuatnya menjadi tempat yang alami untuk merenung tentang identitas nasional dalam tarian. Di thesis Barbara Barker tentang Agnes de Mille antara lain tertulis:

“The explicitly American strain in de Mille’s work makes it a natural place to think about national identity IN this message and the dance. Throughout her life […] and in the dances that followed, de Mille searched for the ‘intrinsic American’ (Barker 1996: 142). Yet in addition to the explicitly America-themed material she chose, her choreography performs national identity through its use of gesture, informed by de Mille’s interest in folk dance and the collective unconscious.
Dengan “Malin Kundang”, saya ingin memberi tantangan kepada para koreografer Indonesia. Bagaimana bisa memasukkan identitas Indonesia dengan pointe techniques, ballon, pirouette dan sebagainya. Musiknya sudah ada, dan beda dengan waltz-nya The Nutcracker, pas-de-deux-nya Swan Lake yang ritme, harmoni dan melodinya sudah sangat berakar di Rusia. Di Malin Kundang, saya menggunakan lagu tradisional “Gelang Sipatu Gelang” yang saya bikin variasi, termasuk dalam ritme waltz scherzando. Coba dengerin aja, walaupun tetap 3/4, tapi saya rasa itu sangat Indonesia. Nah, secara aural saya udah kasih “umpan”, adakah “ikan” yang mau memakannya? Soalnya, hubungan musik dan tari kan udah setua sejarah manusia. Kalau musik beridentitas Indonesia dengan “classical style” sudah mulai kita mapankan, kapan nih lahir sebuah masterpiece koreografi Indonesia? Kapan ada “The Firebird”, “The Stone Flower” Indonesia yang bakal mendunia?

(FOTO oleh Julie Putra )

Advertisements

One thought on “Ballet Indonesia, apa tuh ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s