Robin Williams Tidak Mati karena Bunuh Diri, dan Seni adalah Sebongkah Kotoran

(artikel ini saya tulis seminggu setelah Robin Williams wafat di blog saya andystarblogger.blogspot.com , dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Meicky Shoreamanis Panggabean untuk buku yang akan terbit tahun depan) 
.

Saya tak pernah berharap bahwa suatu saat saya akan membuat tulisan ini namun ada berbagai alasan  yang membuat saya merasa wajib untuk, pada akhirnya, menuliskannya. Robin Williams adalah idola dan pahlawan saya. Dia aktor komedi yang telah mengubah hidup saya dan minggu lalu dia  bunuh diri. Banyak yang mengatakan di Twitter, terutama mereka yang  termasuk  kaum religius, bahwa ia sesungguhnya punya pilihan saat mengakhiri hidup. Mereka berpendapat bahwa ia berbeda dari mereka yang meninggal karena kecelakaan atau karena menderita sakit. Kata ‘bunuh diri’ memberi kesan bahwa itu terjadi karena keputusannya atau karena ‘dia memilih untuk mati’ di saat banyak orang berperang melawan kanker agar tetap hidup.’

Karena depresi adalah kondisi yang masih sering disalahmengerti, ya kita nggak bisa terlalu menyalahkan mereka yang belum terlalu memahaminya. Coba saja browsing sekilas, sangat sedikit orang yang bersimpati kepada mereka yang melakukan bunuh diri.

Anda tahu bahwa saya mengidap Asperger’s Syndrome dan efek sampingnya banyak: Merasa kesepian di tengah keramaian, punya perasaan dan reaksi yang aneh terhadap situasi sekeliling, butuh sendirian, kadang tidak mampu berkomunikasi atau bersosialisasi dan….depresi. Jadi, saya benar-benar bisa mengidentifikasi diri saya dengan keadaan yang dilalui Williams, walaupun kondisi dia 10 atau bahkan 100 kali lebih buruk.

Depresi bukanlah sebuah pilihan, sama halnya seperti kita tak bisa memilih untuk menghindari kanker. Saat seseorang bunuh diri karena mereka depresi, ya mereka meninggal karena depresi, suatu penyakit yang membunuh jutaan orang setiap tahunnya. Sulit untuk tahu berapa tepatnya jumlah orang yang meninggal karena depresi setiap tahun karena statistik hanya menunjukkan berapa  banyak orang yang mati bunuh diri setiap tahunnya (dan depresi hanya ada secara tersirat di balik angka-angka itu).

Saya merasa perlu untuk meluruskan stigma bahwa penderita depresi meninggal bunuh diri ‘karena itu kan salah mereka sendiri.’ Kita bisa punya pemahaman yang benar jika kita mulai mengarahkan perhatian kita kepada penyakitnya dan bukan pada gejalanya. Robin Williams bukan meninggal karena bunuh diri, dia mati karena depresi dan bagi dia ini bukanlah sebuah pilihan.

Dan ini ada kaitannya dengan seni. Eh? Akan saya jelaskan….

Saya menganggap bahwa seni adalah muntahan atau kotoran yang kami, para seniman, keluarkan. Ya, memang menjijikkan sekali, sih. Kami menciptakan karya seni karena ada sesuatu di dalam diri kami yang  sebaiknya dikeluarkan. Jika  tidak, itu akan menjelma jadi racun. Oleh karena itulah kami kerap nggak tahan mendengar musik kami sendiri atau melihat lukisan yang kami buat.

Karya seni yang sangat indah seringkali  lahir dari rasa sakit dan penderitaan. Oleh karena itulah cukup banyak orang yang bingung kenapa seniman itu orang-orang yang kompleks. Ini terjadi karena kami harus menciptakan karya seni, dengan cara inilah kami mendapatkan keseimbangan bagi diri kami. Ini jelas beda dengan ‘orang-orang normal’ yang bisa merasa bahagia tanpa menciptakan karya seni.

Saya harap ada lebih banyak orang yang memahami hal ini:Menciptakan seni tidak serta-merta berarti bahwa seniman itu ‘punya waktu  dan merasa seneng aja gitu saat melakukannya,’ bukan…Bukan begitu. Menghasilkan karya seni  sangat berbeda dari iseng-iseng main puzzle atau  mengisi teka-teki silang.

Dan,  kadang-kadang,  mengeluarkan karya seni dari dalam tubuh  kami tidaklah cukup.

Saya percaya bahwa saat kami dikaruniai dengan kreativitas, sesungguhnya ada sesuatu yang diambil dari kami. Ini adalah cara alam (atau Tuhan, saya rasa) untuk menciptakan keseimbangan. Oleh karena itulah saya rasa semestinya Anda merasa bahagia kalau tidak punya kebutuhan untuk berkesenian karena itu pertanda bahwa Anda sudah seimbang.

Nah, sekarang kembali lagi ke Robin Williams. Saya sangat bersyukur atas perannya sebagai Profesor John Keating di film Dead Poets Society. Menyedihkan saat melihat bahwa Williams meninggal dengan cara yang sama dengan cara Neil meninggal di film tersebut. Profesor Keating  mengingatkan saya akan makna hidup. Saya demikian dekat mengidentifikasi diri dengan Todd Anderson (dimainkan oleh Ethan Hawke). Dulu saya demikian  penakut, merasa tak aman serta kerap kebingungan  dan Keating, melalui  tokoh Todd di film itu, telah mengubah saya. Keating mengingatkan kita semua lewat puisi Walt Whitman bahwa hidup akan terus berjalan dan ke dalamnya,”Kita bisa menyumbangkan secarik bait.”

Requiescat in Pace, Robin Williams.Engkau telah mengubah hidup minimal satu anak lelaki yang pernah demikian gemetar menghadapi hidupnya sendiri.

Advertisements

Pianis Amerika 10 th pecahin rekor gak kira-kira

Saya tahu sih ada 2 macam manusia di dunia ini: yang “progresif” yaitu selalu memperbaiki diri dan yang takut akan kemajuan sehingga berusaha mundur atau jalan di tempat. Nah yang pertama itu dipimpin orang-orang seperti Soekarno, Jokowi, John F. Kennedy, Barack Obama, Mahatma Gandhi, serta para ilmuwan, seniman dan atlet-atlet yang selalu memecahkan rekor prestasi. Yang kedua itu ada dua golongan sebetulnya : 1. yang memang takut, jadi mereka ikut pemimpin mereka yang: 2. sebenernya mau maju & lebih baik (rekening bank dan daerah kekuasaannya), untuk itu harus nipu mereka yang memang takut itu. Makanya mereka sibuk nebarin hoax, ngibul sana-sini, nyebarin ketakutan, kekacauan dll. Dan berhasil! Liat aja George W. Bush ngibul soal Weapons of Mass Destruction di Iraq (eh ketauan ngibulnya, Ya gapapa, toh Iraq-nya udah didapetin), atau Trump yang fitnah-fitnah para imigran. dan sekarang di Brazil tuh Jair Bolsonaro yang menangnya caranya sama: nebarin hoax, kebencian dan kerancuan berita tiap hari.

Tapi ga usah pesimis, golongan yang progresif itu kemajuannya sangat pesat sih. Saya tahu di bidang musik klasiknya, terutama di Asia (nah, ini Indonesia ketinggalan banget nih!). Bahkan tadi malam (well, pagi ini sih soalnya beritanya dari Amerika Serikat dan saya terimanya pas bangun tidur, kan beda 6 jam ama Spanyol di sini) ada berita cukup gila: ada pianis umur 10 tahun yang main Rapsodia Nusantara …. dan menang di kompetisi piano! Berarti mainnya ga cuma asal-asalan mecahin rekor pianis termuda bla bla bla dong. Eh dia kirim video rekamannya, saya cek …. eh buset, beneran gila bagus banget. Kalau kita dengerinnya sambil tutup mata, ya kita kayak ngedengerin pianis paling nggak 17 tahun, gitu. Namanya Henry Shao (ini nama keluarganya dari Cina atau Taiwan gitu ya? Ga penting lah –eh ya buat Trump penting ya, sibuk si doi ngurusin pribumi & non pribumi–, dia anak Amerika pokoknya. Yang penting: dia mainnya hebat, dan otaknya encer).

Ini berita saya dapet dari guru pianonya, Esther Chiu, yang tentu aja juga hebat banget bisa bikin anak main kayak gini. Artinya dia bisa menyesuaikan kemampuan tiap anak, bukan semata-mata ngikutin kurikulum. Henry tahun lalu menang juara ke-2 di Elizabeth Gerber Piano Competition (Ohio state) ga tau main karya apa, dan tahun ini dengan virtuositas yang udah sangat maju, dia main Rapsodia Nusantara no. 6, yang saya tulis untuk mengenang para korban tsunami Aceh (dan berdasarkan lagu daerah sana, Bungong Jeumpa). Dan para juri ya bengong lah. Ga usah para juri, saya aja yg nulis musiknya, dengerinnya juga bengong. Langsung deh saya minta izin gurunya untuk upload di kanal saya, dan dia mengizinkan. Jadi, liat aja nih, dan yuk bengong sama-sama :

https://www.vidio.com/watch/1508268

Saya sebetulnya ga peduli umur, gender, kewarganegaraan, latar belakang keluarga & kebudayaan dll. untuk suatu pencapaian karya seni yang tinggi. Kalau umur 10 tahun dan mainnya ngaco ya saya gak bakal nulis kayak gini. Jadi ini saya muji-muji bener-bener berdasarkan kualitas permainannya. Tapi yaaa …. saya tahu kesulitan nomor-nomor Rapsodia Nusantara. Memang yang no. 6 ini bukan yang paling sulit, tapi tetep aja, waktu kalian umur 10 tahun itu lagi ngapain coba? Saya umur 10 ngapain aja coba? Eh, ya main piano. Tapi ya gak main Rachmaninov, Tchaikovsky dan yang susah-susah itu juga kali (jaman dulu belum ada Rapsodia Nusantara yak, yg bikin belum lahir)! Dan terus terang, kalau nanti ada anak yang lebih muda lagi, saya bakal serem sih. Lama-lama bayi baru lahir di Zimbabwe atau pulau manaaa di samudera Pasifik yang ga ada pianonya langsung main Rapsodia Nusantara. Dan lama-lama itu Rapsodia kok jadi keliatan gampang gitu yak. Virtuositas kok jadi berkembang kayak gitu. Ini semua pasti salah pak Jokowi …..

Bare Necessities

Tau kan lagunya Baloo ‘n Mowgli di Jungle Book itu? Itu salah satu lagu favorit saya sejak dulu. Anyway, hari ini ada 2 kejadian yg keliatannya ga nyambung, tapi setelah kupikir-pikir, kayaknya nyambung ya. Dan itu bertema “The Bare Necessities” dari lifestyle saya sih.
Pertama, saya abis dengerin hasil akhir rekaman karya saya yg utk pak B.J. Habibie yg terbaru, “Sebuah Simfoni Untuk Perempuan” yang diperdanakan Agustus lalu. Saya udah bisa dengerin ini kayak pendengar biasa aja, jadi udah ga berasa bahwa saya penulisnya yang melahirkannya, dan udah ga ada baperan2nya dan berasa “aduh ini anak saya, lahir dari rahim saya” (eeeh? Emang saya punya rahim ya?). Nah, pas ending-nya tuh, I made the same mistake like I did, paling dikit 1000 x dalam hidup saya. Emang rada kurang panjang, kurang diulur-ulur gitu!
Udah ada buanyaaakkkk musikus, dari mana aja, dari instrumen apa aja, termasuk vokalis, dirigen orkes, yang komentar tiap kali abis mainin karya saya: “Coba endingnya nih ditambahin / dipanjangin dikiiiit aja, berapa birama kek, pasti akan lebih enak / asik / keren / whatever deh”. Bener deh, karena nasehat itu udah berkali-kali dikasih tau ke saya, saya selalu kepikiran. Tapi ya pas nulis musik itu ya rasanya sih udah ok, dan pas saya cobain di piano abis selesai nulisnya, ya kayaknya ok ok aja. Tapi iya sih, terutama karya-karya saya yang berakhir “jederrrr” gitu, setelah beberapa bulan kemudian saya dengerin lagi, kok iya ya kurang panjang, kurang membangun emosi lah istilah inteleknya.
Udah nih, sekarang kejadian kedua. Saya tulis kayak naskah drama aja ya.
AS (saya) : Ali (ini panggilan anakku, Alicia), bantuin dong install WhatsApp ke laptop saya dong.
AP (Alicia Pirena, walaupun harusnya pake Sukarlan juga sih, tapi biar ga bingung AS ama AS deh) : OK. (setelah beberapa menit) Pa, komputer ini udah ketuaan. Mesti install / update bla bla bla …. lama deh. Anyway, Pa, itu komputer mbok ya diganti. Kayak ga punya duit aja. Lagipula ga malu ya, keliatan orang punya komputer tua gini padahal katanya komponis ngehitzz gitu?
AS : Duhhh males, soalnya aku udah enak. Udah tau icon Sibelius di mana, gaptek berat deh.
Anyway, komputerku emang sejak 2012 (apa bahkan 2011 ya?) masih yang ini-ini juga. Dan believe it or not, dulu emang suka aku pake buat email, tapi sekarang dgn adanya smartphone, komputer ini cuma dipake satu program, yaitu SIBELIUS, untuk ngetik not balok ke kertas pentagram. Ngetik doang loh, dengan program yang harusnya bisa canggih ini! Well, mungkin ada hal-hal lain yg bisa dilakukan Sibelius, tapi itu pun aku cuek. Bahkan Sibelius yang kupakai ini versi yang udah antiiikk banget, karena emang saya udah nyaman memakainya. Paliiiing banter ya convert ke MIDI, yaitu not-not itu bisa bunyi kayak mesin, tapi itu kan sangat robot ya, jadi bunyinya juga juueelleeekk banget (biasanya kalau saya denger versi MIDI musik saya, saya langsung mau lompat dari …. eh dari mana ya, appt saya di Jakarta cuma lantai 2, rumah saya di Spain juga cuma 2 lantai, kalau lagi nginep di hotel kacanya tuh tebel banget susah mecahnya. Jadi ya ga bakal mati, paling benjol aja).

Liat ga hubungannya? Kesimpulanku, ternyata saya emang orangnya cuma butuh “bare necessities” kayak Mowgli. Baju juga pinginnya pake kaos doang, dan celana pendek (eh tapi ini lagi musim gugur udah dingin sih). Ga nyangka kan? Di dalam musik, kalau saya ngrasa udah kelar ngoceh apa yg mesti diocehin, yaudah, kelar. Ga perlu ditambah-tambahin biar drama, bertele-tele dan dibikin bombastis. Soalnya emang saya ga suka drama, yang sebetulnya salah besar karena kerjaan saya di seni pertunjukan, yang notabene justru harus mendramatisir semuanya. Hidup udah kayak roller coaster, masih mau didramatisir lagi?? Saya sih sukanya drama ON STAGE, tapi jangan OFF STAGE lah. On stage maksudnya di musik saya …. tapi kok ya ternyata juga masih kurang drama pas endingnya ya? Tapi apa saya tuh konservatif? Nggak sih. Bahkan saya ngrasa saya sangat progresif. Saya cuma …. ya gini deh. This is me, just the way I am (loh kok kayak Billy Joel). Yang pasti walaupun saya ngefans berat Freddie Mercury, definitely Oh no, I am a great pretender NOT.

Anggur Dan Racun

Jaman dulu ada lagu ngehitz: Madu di tangan kananmu, Racun di tangan kirimu / Aku tak tahu mana yang akan kauberikan padaku.

Nah, barusan nih saya abis terbang 12 jam dgn maskapai penerbangan yg cukup terkenal, dan ternyata red wine nya ga enak banget. Jadi tangan kiri dan kanan pramugarinya sama aja: racun semua. Padahal biasanya wine mereka lumayan lah, gak spesial2 banget tapi ga berasa racun seperti ini. Ampe rumah, saya complain dong ke maskapainya lewat websitenya. Dan mereka ternyata kasih jawaban, bahwa wine mereka tetap sama sejak beberapa tahun ini, tapi karena ada “global warming” makanya kualitas wine-nya menurun. Dan aku Google abis itu, bener juga, tapiiiiii ternyata karena kualitas menurun, perusahaan wine-nya ngebanting harga.

Nah, itu yang aku ga bisa tolerir. Jadi maskapai penerbangannya beli murah dong? Eh mas2 dan mbak2, sebelumnya saya naik Singapore Airlines (yg ini saya mau nyebut nama maskapainya, soalnya ok banget), dan mereka pakai wine ok banget loh dari Australia. Elu elu jangan pake alasan global warming utk ngasih wine murah ke penumpang yak. Kalau kalian tau kualitas (dan harga!) menurun, ya cari dong wine yg ok. Ga semua wine terpengaruh oleh global warming loh.

Itu wine yg anda kasih ke penumpang selama 12 jam itu menghasilkan akord yg sangat disonan di kepalaku, setelah di lidah tuh rasanya aneh, bahkan aku ga tau itu bisa dipakai utk musik apa. Hadehhh, pernah dengar pepatah “customer is king”? Nah coba yak, terutama utk kami yg udah bayar ga murah2 amat untuk tiket pesawat. Paling dikit lidah kita dimanjain dikit kek! Jangan kalah ama maskapai Asia yg negaranya malah bukan penghasil wine dong!

Seberapa ngertinya sih saya dgn musik saya sendiri?

Sering saya ditanyain nih, bukan aja ama orang-orang awam, bahkan ama kolega2 musikus: Kak (cieeee yg udah mapan dipanggil kak nih), kalau kakak main musik kakak sendiri, apa masih perlu latian? Kan harusnya udah hafal luar kepala gitu?

Nah gini dik (ihiiiy mesra yak manggil dik). Ini ya menyangkut proses kreatif penulisan itu sendiri. Musik itu pas kakak (eh “saya” aja deh. Ga usah belaga imut) terima di kepala, itu belum 100% tertulis detailnya. Itu yang namanya teknik komposisi, yang kita harus pelajari: kalau kita mendengar akord, kita mesti tau itu not-notnya apa aja? Kalau mendengar melodi, tentu ada aspek ritmenya, temponya dll., itu kan mesti diuraikan dulu untuk ditulis. Di sinilah pendidikan musik itu penting.
Nanti kalau udah ditulis, ya saya terus coba di piano. Kadang-kadang tuh ada akord dimana dibutuhkan 12 jari untuk mainnya, ya saya harus kompromi : kurangilah 2 not biar bisa dimainkan oleh jari-jariku (dan jari-jarimu ehhhhmmmm, mana dik, jari-jarinya? Aduh lentik yah). Makanya waktu saya ngomong soal disabilitas: tangan cuma satu, jari-jari cuma beberapa yang berfungsi dll., nah sebagai komponis mah kita udah ngurusin segala keterbatasan itu setiap hari! Yang dianggap “normal” yaitu 10 jari, 2 tangan itu bisa dianggap keterbatasan, cyyyn! Sering banget saya denger musik di kepala yang butuh 3 tangan buat maininnya, padahal harusnya untuk pianis “normal”.
Jadi ibaratnya arsitek nih. Dia udah punya gambaran bangunannya. Tapi kan baru pas dibangun beneran dia baru tau, steker2nya ditaruh dimana? Catnya warna apa, ornamen-ornamennya apa aja? Nah sama banget. Details seperti itu yang sering “dibuat-buat” sehingga saya sendiri sering lupa. Seringkali bahkan ditambahkan virtuositas tertentu di beberapa birama, yang tentu saja saya harus latih lah dikit-dikit untuk bisa maininnya.
Tapi ada hal yang sangat, SAANGGATTTT aneh sih, tentang komponis yg main musiknya sendiri. Emang sih, kalau musik itu baru jadi, saya hampir nggak butuh latian untuk bisa maininnya. Musiknya udah jelas, gamblang banget di otak. Tapiiiiii, coba deh saya tinggalin beberapa bulan. Itu musik jadi memudar di otakku, dan saya makin lupa makin ga tau musik itu. Jadi kebalikannya dgn musikus yg main karya orang lain: semakin waktu berjalan, biasanya musikus itu kan semakin ngerti musik yg dimainkannya, karena musik itu makin merasuk ke jiwanya, makin mendarah daging, makin “assimilated” lah. Nah, kalau saya sebagai komponis tuh kebalik. Semakin lama, musik itu semakin “menghilang” dari saya. Apalagi musik itu biasanya kan ditulis dalam situasi emosi tertentu. Dgn kata lain, musik itu ya justru mendefinisikan emosi tertentu, emosi yang kadang-kadang susah didefinisikan dengan kata-kata. Coba tanyain saya beberapa bulan lagi, saya lagi ngrasain apa waktu nulis itu pun saya udah lupa. Kadang-kadang emosi itu terlalu ga enak sehingga emang saya harus keluarin lewat musik, dan setelah saya keluarin ya kayak pipis atau itu tuh, yang ngeluarinnya harus eehhhhhhhmmmm gitu ….. kita udah ga pingin tau lagi nasibnya “keluaran” kita itu gimana. Gitchuuuuu diikkk chayankkk

Susahnya Aspie kalau sakit mata

Jadi ceritanya saya nih udah sakit mata seminggu lebih. Katanya sih kemasukan virus, jadi mata kiri tuh merah gitu loh. Minggu lalu dokter udah bilang untuk menghindari debu dan extra hati2 ama mata, tapi gini yah. Apartemen saya ama kantor tuh kalau diboncengin motor cuma 6 menit. Kalau naik mobil minimal setengah jam, karena macet banget. Cuma ya itu, Jakarta dimana aja debunya seabreg-abreg. Jadi saya bandel, tetep naik motor. Kalau mau menghindari debu, atau ga begitu macet jadi saya bisa naik mobil, ya ga bisa. Harus minta koh Ahok jadi gubernur lagi dong. Itu satu-satunya jalan. Jadi mata gue gini nih salah koh Ahok.

Tapi ada masalah lain kenapa mata saya nih ga sembuh-sembuh walaupun udah ditetesin obat mata. Itu tetes harus tiap 3 jam sekali. Nah, karena saya Asperger’s Syndrome, saya ga pernah bisa netesin sendiri, boro2 pake feeling, masukkin benang ke lubang jarum aja yg melototinnya ga bisa-bisa. Jadi harus ada temen atau staff yg bantuin, nah masa mereka mesti ke appt. saya tiap 3 jam sih? Jadi ya kadang-kadang dirapel, pas ada yg ngebantuin tetes aja yg banyak jadi baru ditetes lagi 6 jam kemudian. Bego yak?

Nah tadi ada Perang Dunia III pas saya ngecek lagi ke dokter mata. Kan ada alatnya tuh, dimana kepala kayak dimasukkin cetakan, dan mata satu-satu difoto. Yang berarti bola mata harus fokus ke satu arah aja sambil nunggu 3 … 2 … 1 …. jepret. Ya mata saya yg jelalatan gini susah lah suruh diem. Bukannya dokternya cantik yak ampe mata saya jelalatan, tapi saya Aspie gitu loh. Jadi bu dokter yg keliatannya baik, perempuan separuh baya pake jilbab, ngomel-ngomel deh. “Bapak kok susah amat sih suruh fokus ke satu titik aja”. Saya: “Dok, saya punya Asperger’s Syndrome” (ga mau bilang Aspie, nanti dia ga ngerti, atau malah ngomel, loh kok di kartunya namanya ngakunya Ananda?). Eh dia ga tau apa itu Asperger’s. Saya bilang “Itu ya autis gitu lah, Dok”. Eh dia jawab, “Bapak Autis? Kok ga kayak orang autis?” . Ya cape kan. Elu pasti ngebayangin Dustin Hoffman di Rainman ya dok.
Akhirnya setelah Perang Dunia III usai, akhirnya bisa juga deh mataku yg keindahannya mirip mata Jennifer Lawrence ini kepotret. Eeeetapi kok hasilnya beda yak. Matanya melotot, merah, dan belekan lagi. Aduh jangan-jangan ini gue digebukin & dianiaya deh. OK deh, gue mau beli tiket ke Santiago de Chile dulu ya manteman. Gue pingin menghadiri International Women Playwright di sana nih. Gue cek ah websitenya. https://wpichile.com/en/home-2/ . Yahhhh …. kok website nya down? Ya udah deh gue ke Citos aja. Byeeeee

Kanal vidio.com Ananda Sukarlan

Teman2, saya juga ada kanal di vidio.com . Saya bikin utk para musikus klasik Indonesia yg main karya saya maupun karya komponis Indonesia lainnya. Supaya kita semua bisa lebih bangga dengan “produk dalam negeri”. Bisa dicek misalnya Anthony Hartono yg kini tinggal di Finlandia dan nembus kompetisi piano internesyenel yg bergengsi dengan memainkan sesuatu yg sangat “Bali” https://www.vidio.com/watch/1261001