Ballet Indonesia, apa tuh ya?


Pagi-pagi (tepatnya siang sih) abis konser “Millenial Marzukiana” …. pingin tau (apa pingin tau banget?) hari setelah konser tuh kami musikus biasanya ngapain aja? Hehehe … ya biasanya saya nginep di hotel sih, jadi kalau paling lambat jam 9 ga bangun, saya kehilangan breakfastnya sih yang biasanya cuma ampe jam 10. Tapi ya ini masih jam 8 pagi, jadi saya ngeblog aja deh ya. Soal apa? Ga tau, orang masih ngantuk. Ya go with the flow aja deh …
Eh soal musik saya “Malin Kundang” aja deh ya, yang tadi malam pakai narasi yg dibacain Handry Satriago si cowok ngehitz yang setelah itu banyak yg ngefans deh ama dia (FYI, udah nikah tuh si doi, sis, anaknya udah 2 walaupun sekali mbrojol alias kembar. Doi millennial? Millennial dari Hong Kong kaliii). Malin Kundang itu sebetulnya aku buat untuk musik koreografi. Musik ballet lah, kerennya, kayak Swan Lake, Spartacus, Gayaneh, The Rite of Spring gitu deh. Eh kok nyebutnya komponis Rusia semua yak; itu kan bikinannya Tchaikovsky, Khachaturian, Stravinsky. Ya ok deh, “Prince of The Pagodas” deh, itu favoritku, musiknya dari Benjamin Britten untuk koreografi John Cranko, atau “Rodeo”, musik Aaron Copland untuk koreografi Agnes de Mille. Nah buat kita2 komponis ini ga gampang bikin musik untuk ballet, kalau nggak sering hangout ama koreografer dan penari-penari (yang kebanyakan pecicilan & ga bisa diem itu). Manajer saya Chendra Panatan kan juga mantan penari ballet, dan sekarang koregrafer, makanya saya jadi dapet “feel”nya musik ballet deh. Dan memang Chendra kan bikin koreografi untuk opera-opera saya, “Clara”, “Mendadak Kaya” dan terakhir ini “Saidjah dan Adinda”.
Tapi bukan hanya itu. Chendra dan penari-penari itu kan sering ngomong soal identitas ballet Indonesia. Dengerin aja, itu koreografinya Diaghilev musiknya sangat Rusia kan. Britten sangat “English” walaupun banyak pengaruh Bali-nya. Nah sampai saat ini tuh belum ada musik yang “klasik” gitu untuk koreografi ballet Indonesia. Tapi ntar dulu, jadi “ballet Indonesia” tuh apa yak? Ya intinya sama kayak Indonesian classical music lah : menggunakan teknik “Eropa”, tapi materialnya Indonesia : ceritanya dari Indonesia, musiknya juga sangat Indonesia. Nah soal gerakan penarinya, bukan saya deh ahlinya. Saya nge-quote koreografer Amerika Agnes de Mille aja ya (yang bikin “Rodeo” di atas itu loh) di program televisi “Eye on Dance” deh yang bilang: “Saya sangat tertarik dengan gerak tubuh manusia. Gerakan tidak berbohong, itu mengekspresikan kebenaran. Dan Anda bisa tahu semua tentang seseorang dari cara dia menggunakan tangan atau kaki atau kepala atau apapun.”
Bagi de Mille, akar dari ekspresi koreografinya adalah eksplorasi identitas Amerika. Di antara koreografer abad lalu, Agnes de Mille menonjol karena mengaplikasi (atau mengeksploitasi?) hal-hal, cerita & budaya Amerika yang karakteristik. Walaupun koreografer lainnya (terutama Martha Graham dan Paul Taylor) menciptakan tarian menggunakan ke-Amerika-an sebagai subjek mereka, keberagaman, wide-range-nya tarian de Mille dan tulisan / risetnya yang mengeksplorasi apa artinya menjadi orang Amerika menempatkannya di garis depan eksplorasi nasionalisme dalam tari.

Memang, de Mille awalnya mencapai ketenaran dengan “Rodeo”, karya “Wild West”nya tahun 1942-nya dari musik Aaron Copland, komponis yang juga sangat berjasa dalam “memapankan” musik klasik Amerika, yang merupakan keberhasilan pertama dalam serangkaian “balet Amerika”nya.

Konsistensi ke-Amerika-an yang eksplisit dalam karya de Mille membuatnya menjadi tempat yang alami untuk merenung tentang identitas nasional dalam tarian. Di thesis Barbara Barker tentang Agnes de Mille antara lain tertulis:

“The explicitly American strain in de Mille’s work makes it a natural place to think about national identity IN this message and the dance. Throughout her life […] and in the dances that followed, de Mille searched for the ‘intrinsic American’ (Barker 1996: 142). Yet in addition to the explicitly America-themed material she chose, her choreography performs national identity through its use of gesture, informed by de Mille’s interest in folk dance and the collective unconscious.
Dengan “Malin Kundang”, saya ingin memberi tantangan kepada para koreografer Indonesia. Bagaimana bisa memasukkan identitas Indonesia dengan pointe techniques, ballon, pirouette dan sebagainya. Musiknya sudah ada, dan beda dengan waltz-nya The Nutcracker, pas-de-deux-nya Swan Lake yang ritme, harmoni dan melodinya sudah sangat berakar di Rusia. Di Malin Kundang, saya menggunakan lagu tradisional “Gelang Sipatu Gelang” yang saya bikin variasi, termasuk dalam ritme waltz scherzando. Coba dengerin aja, walaupun tetap 3/4, tapi saya rasa itu sangat Indonesia. Nah, secara aural saya udah kasih “umpan”, adakah “ikan” yang mau memakannya? Soalnya, hubungan musik dan tari kan udah setua sejarah manusia. Kalau musik beridentitas Indonesia dengan “classical style” sudah mulai kita mapankan, kapan nih lahir sebuah masterpiece koreografi Indonesia? Kapan ada “The Firebird”, “The Stone Flower” Indonesia yang bakal mendunia?

(FOTO oleh Julie Putra )

Advertisements

Tsunami Aural


Mungkin anda mengira nulis musik itu ya mulai dari depan ampe belakang kan? Gini ini … mulainya enaknya gimana yaaa …. terus go with the flow (of the melody). Kalau nulis lagu pop iya sih bener, tapi kalau nulis karya dgn classical style, itu ga selalu gitu. Bahkan yg saya kerjakan saat ini tuh saya mulai dari not paling akhir, mundur ke not paling awal. Loh kok kayak nulis bahasa Arab? Hehehe iya. Gini yak…
“Struktur” itu salah satu elemen yg penting dalam karya musik. Jadi yang kami lakukan adalah bikin strukturnya dulu, kayak arsitek lah, bikin gambar rumahnya sebelum naruh batu bata satu-satu gitu. Nah sekarang nih, saya sedang bikin musik yang menggambarkan tsunami. Ya iyalah, inspirasinya dari tsunami Krakatau yang barusan. Saya kan pernah bilang, musik itu dokumentasi dari kejadian saat ini, lupa yak? Baca lagi deh artikel Media Indonesia ini

Nah saya seharian bbrp hari yg lalu itu nge-google, tsunami itu gimana sih prosesnya, sampai bisa jadi gelombang yg gede banget itu. Ternyata itu terjadi dari gelombang-gelombang kecil yang terakumulasi. Sebetulnya ga beda jauh dengan “teori fraktal” kalau di geometri (iya iya pak guru, saya dulu di SMA jeblok banget geometrinya, I knooooowww udah ga usah diingetin!!). Makanya titik awalnya tsunami itu gak keliatan sebagai ombak yg gede, keliatannya sih biasa aja. Sekarang saya baca soal fraktal ini kebayang indahnya sih, bukan kebayang matematikanya yg ribet itu. Jadi, saya pikir, ah bikin yuk musik tentang ini. Nah musik ini ya akhirnya harus “grande” dong, karena akumulasi pola-pola sederhana itu. Jadi ya udah deh, saya langsung dapet strukturnya, teksturnya yang berkembang dari awal sampai akhir, dan bahkan durasinya, yaitu cukup 2 menit aja. Ini rencana sih (kalau beneran besok kelar yak) akan jadi musik pembuka Jakarta New Year Concert tgl 13 Januari nanti di Ciputra. Eh kalau mau beli tiketnya masih discount 25% loh ampe akhir tahun! Cepetan deh, hubungi Chendra di 0818 891039 ya. Emang ga ada hubungannya ama musiknya Ismail Marzuki (kan temanya Millenial Marzukiana seperti dijelasin di tulisan blogger ini ) tapi namanya juga musik pembuka. Dengan musik ini saya sih pingin bikin “aural experience”nya tsunami, semoga bisa “kena” ke hati penonton untuk ikut bersimpati dengan mereka yang terpaksa mengalaminya, bahkan jadi korban ya.
Ya udah jangan ngoceh mulu, tulis musiknya lah bro! Back to work ya. Ini enaknya karya ini judulnya apa ya? Apa “Tsunami” aja ya? Tau ah, kelarin dulu yg penting.
Happy holidays, ma friends! Ketemuan nanti di Millenial Marzukiana ya?

Sayembara untuk para bloggers! 

Hey Starbloggers, yuk nonton konser saya, tapi ga usah bayar tiket. Beneran cyyyn, gratissss, dan tiketnya Gold lagi yang harganya Rp. 1.000.000! Ini konser Jakarta New Year Concert 2019, dengan tema “Millennial Marzukiana” , Minggu tgl 13 Januari 2019 pk. 4 sore di Ciputra Artpreneur. Udah gitu bakal dapet goody bag lagi! Siapa tau yang jomblo bisa dapet gebetan yg keren kan di konserku ini, udah banyak kejadian loh kayak gini! Soalnya ini konser simfoni orkestra yg keren, jadi yang dateng ya keren2 juga kan. Detail acaranya ini nih
20 bloggers akan kami pilih untuk mendapatkan kesempatan ini. Nanti kami minta anda untuk ngeblog tentang konser ini.
Syaratnya gampang :
1.- Anda dipersilakan menulis nama, satu / beberapa link dari social media anda dan alamat blog anda di komen di bawah artikel ini, atau tweet atau inbox IG di @anandasukarlan . Jika anda terpilih, nanti anda akan dihubungi langsung oleh panitya. Nama anda semua yang terpilih akan diumumkan di social media saya. Ntar boleh deh di RT atau di Repost buat pamer (termasuk bikin mantan nyesel, mutusin blogger keren nih dulu!), paling lambat tgl 29 Desember jam 23.59 . Nanti pengumuman pemenang kami umumkan sebelum malem taon baru, itung2 hadiah Taon Baru kan?
2.- Anda sudah menjadi follower saya di twitter / Instagram yang keren itu (sorry deh, ga ada yg muji jadi ya muji diri sendiri aja yak).
3.- Penulisan boleh (bahkan dianjurkan) berbentuk opini dan bukan sekedar laporan pandangan mata, curhat pun boleh (ada bagian musik yg ngingetin mantan kek, ada yang bikin galau kek, ada pemain orkes yang caem dan pingin nomer hp-nya kek, whatever lah) tapi tetap menggunakan prinsip 4 W dan 1 H (What, Where, When, Who dan How), yang berarti nama-nama para solois milenial juga harus komplit, dan ga boleh salah eja yak! Opini anda tuh sangat dihargai, jadi tulisan2 ini bakal bikin pembaca liat cara-cara pandang yg berbeda. Kalau cuma lapdangmat doang mah basi kali, semuanya sama dong!
4.- Penulisan artikel di blog anda paling lambat adalah tgl 20 Januari. Kalau telat, ehhhmmm tanggal 21 pagi saya akan tagih loh lewat social media saya, semua orang bakal bisa baca anda tukang telat!
Dari 20 blog entries ini saya pribadi akan memilih 1 orang pemenang untuk mendapatkan hadiah yaitu 1 set CD saya, termasuk yang paling baru dirilis.
O ya, by the way buswaayyy, anda boleh memotret dan merekam video / audio konser ini dan mempostnya di social media, tapi mohon tidak mengganggu orang yang duduk di sebelah anda (brightness dari screen anda mohon diturunkan) .

Anda juga boleh nanya2 ke saya pribadi atau musikus2 lain kok. Nanti kami kasih nomer kontak kami.

Sampai ketemu yaaaaa manteman! Hepiniuyier!
Pianistically yours,
@anandasukarlan

Ngramein koh Ahok di Washington DC terus ke negara2 lain

Koh Ahok udah mau keluar beberapa bulan lagi! Lepas dari abis itu mau ngapain, gue sih excited banget. Anehnya (eh ya udah ga aneh sih, urusan gini nih gue beneran ga ngerti), orang yang ngefitnah koh Ahok malah baru mau dimasukkin penjara, udah gitu cuma 18 bulan lagi. Sedangkan koh Ahok yang difitnah cepet banget masuk penjaranya, dan hukumannya 2 tahun. Buat gue sih itu aneh. Tapi ya banyak juga kasus cewek diperkosa, malah ceweknya yang dihukum. Otak gue yg terlalu simple ini ga ngerti deh.

Anyway, banyak yg udah pingin menyambut koh Ahok pas doi keluar di gerbang Mako Brimob. Itu bakal rame bener lah. Gue pingin sih, tapi kayaknya ga bisa deh. Dengan Asperger’s Syndrome gue, di antara kerumunan gitu, belum lagi bakal diajak ngobrol banyak banget orang, gue bisa pingsan. Paling dikit migraine. Atau depresi berjam-jam. Koh Ahok pasti ga mau juga gue jadi bengong nan zombie gitu kan. Nah jadi gue ngrayainnya dengan musik aja deh, dan yang pertama di kota yang jadi jantungnya Hak Azasi Manusia, Washington D.C. Di situ kan ada kantor Amnesty International, ada OHR (Office of Human Rights) dan yaaaaah Ibukota negara Yunaitid Steits of Emerika gitu loh. Jadi nanti musik yg dimainkan adalah karya gue, “No More Moonlight Over Jakarta” (liat deh gue diinterview TEMPO di sini https://video.tempo.co/read/10090/pianis-ananda-sukarlan-ciptakan-karya-terinspirasi-ahok ) dan eh, yang mainin ya pianis oficialnya “32 Bright Clouds” yang memang meng-commission karya ini yaitu Yael Weiss (nah ceritanya ini baca di https://www.kompasiana.com/abihasantoso/5a54f5565e137319a36c3369/no-more-moonlight-over-jakarta-perjalanan-ananda-sukarlan-membela-ahok?page=all ).
Yael Weiss bakal membuka serangkaian konser ini tanggal 24 Januari 2019 di Strathmore Mansion, Washington DC. Selain karya itu, tentu dia juga mainin “sumber asli”nya karya ini sebelumnya, yaitu Moonlight Sonata-nya Beethoven dong. Abis itu, dia akan tampilkan karya ini juga ke Canada dan Cuba. Lengkapnya jadwalnya gini nih :

January 26th, 2019: Western University, London Ontario (Canada)

March 15th, 2019: Kerrytown Concert House, Ann Arbor, Michigan (USA)

June 2nd, 2019: Museum of Fine Arts, St. Petersburg, Florida (USA)

June 11th, 2019: 32 Bright Clouds Recital in Havana, Cuba

Jadi, kalau kebetulan anda pas di deket-deket sana, mampir dong! Ya kalau pas lagi di Singapur gitu, yang katanya harga-harga di sono lebih murah daripada di Jakarta (elu percaya? Kalau percaya ya udah ga usah dateng ke konser-konser ini deh, ga bakal menikmati. Bego lu soalnya), bisa juga sih tinggal ke airportnya, terus terbang ke kota-kota di atas itu. OK? Yuuukkk cyyyn

Robin Williams Tidak Mati karena Bunuh Diri, dan Seni adalah Sebongkah Kotoran

(artikel ini saya tulis seminggu setelah Robin Williams wafat di blog saya andystarblogger.blogspot.com , dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Meicky Shoreamanis Panggabean untuk buku yang akan terbit tahun depan) 
.

Saya tak pernah berharap bahwa suatu saat saya akan membuat tulisan ini namun ada berbagai alasan  yang membuat saya merasa wajib untuk, pada akhirnya, menuliskannya. Robin Williams adalah idola dan pahlawan saya. Dia aktor komedi yang telah mengubah hidup saya dan minggu lalu dia  bunuh diri. Banyak yang mengatakan di Twitter, terutama mereka yang  termasuk  kaum religius, bahwa ia sesungguhnya punya pilihan saat mengakhiri hidup. Mereka berpendapat bahwa ia berbeda dari mereka yang meninggal karena kecelakaan atau karena menderita sakit. Kata ‘bunuh diri’ memberi kesan bahwa itu terjadi karena keputusannya atau karena ‘dia memilih untuk mati’ di saat banyak orang berperang melawan kanker agar tetap hidup.’

Karena depresi adalah kondisi yang masih sering disalahmengerti, ya kita nggak bisa terlalu menyalahkan mereka yang belum terlalu memahaminya. Coba saja browsing sekilas, sangat sedikit orang yang bersimpati kepada mereka yang melakukan bunuh diri.

Anda tahu bahwa saya mengidap Asperger’s Syndrome dan efek sampingnya banyak: Merasa kesepian di tengah keramaian, punya perasaan dan reaksi yang aneh terhadap situasi sekeliling, butuh sendirian, kadang tidak mampu berkomunikasi atau bersosialisasi dan….depresi. Jadi, saya benar-benar bisa mengidentifikasi diri saya dengan keadaan yang dilalui Williams, walaupun kondisi dia 10 atau bahkan 100 kali lebih buruk.

Depresi bukanlah sebuah pilihan, sama halnya seperti kita tak bisa memilih untuk menghindari kanker. Saat seseorang bunuh diri karena mereka depresi, ya mereka meninggal karena depresi, suatu penyakit yang membunuh jutaan orang setiap tahunnya. Sulit untuk tahu berapa tepatnya jumlah orang yang meninggal karena depresi setiap tahun karena statistik hanya menunjukkan berapa  banyak orang yang mati bunuh diri setiap tahunnya (dan depresi hanya ada secara tersirat di balik angka-angka itu).

Saya merasa perlu untuk meluruskan stigma bahwa penderita depresi meninggal bunuh diri ‘karena itu kan salah mereka sendiri.’ Kita bisa punya pemahaman yang benar jika kita mulai mengarahkan perhatian kita kepada penyakitnya dan bukan pada gejalanya. Robin Williams bukan meninggal karena bunuh diri, dia mati karena depresi dan bagi dia ini bukanlah sebuah pilihan.

Dan ini ada kaitannya dengan seni. Eh? Akan saya jelaskan….

Saya menganggap bahwa seni adalah muntahan atau kotoran yang kami, para seniman, keluarkan. Ya, memang menjijikkan sekali, sih. Kami menciptakan karya seni karena ada sesuatu di dalam diri kami yang  sebaiknya dikeluarkan. Jika  tidak, itu akan menjelma jadi racun. Oleh karena itulah kami kerap nggak tahan mendengar musik kami sendiri atau melihat lukisan yang kami buat.

Karya seni yang sangat indah seringkali  lahir dari rasa sakit dan penderitaan. Oleh karena itulah cukup banyak orang yang bingung kenapa seniman itu orang-orang yang kompleks. Ini terjadi karena kami harus menciptakan karya seni, dengan cara inilah kami mendapatkan keseimbangan bagi diri kami. Ini jelas beda dengan ‘orang-orang normal’ yang bisa merasa bahagia tanpa menciptakan karya seni.

Saya harap ada lebih banyak orang yang memahami hal ini:Menciptakan seni tidak serta-merta berarti bahwa seniman itu ‘punya waktu  dan merasa seneng aja gitu saat melakukannya,’ bukan…Bukan begitu. Menghasilkan karya seni  sangat berbeda dari iseng-iseng main puzzle atau  mengisi teka-teki silang.

Dan,  kadang-kadang,  mengeluarkan karya seni dari dalam tubuh  kami tidaklah cukup.

Saya percaya bahwa saat kami dikaruniai dengan kreativitas, sesungguhnya ada sesuatu yang diambil dari kami. Ini adalah cara alam (atau Tuhan, saya rasa) untuk menciptakan keseimbangan. Oleh karena itulah saya rasa semestinya Anda merasa bahagia kalau tidak punya kebutuhan untuk berkesenian karena itu pertanda bahwa Anda sudah seimbang.

Nah, sekarang kembali lagi ke Robin Williams. Saya sangat bersyukur atas perannya sebagai Profesor John Keating di film Dead Poets Society. Menyedihkan saat melihat bahwa Williams meninggal dengan cara yang sama dengan cara Neil meninggal di film tersebut. Profesor Keating  mengingatkan saya akan makna hidup. Saya demikian dekat mengidentifikasi diri dengan Todd Anderson (dimainkan oleh Ethan Hawke). Dulu saya demikian  penakut, merasa tak aman serta kerap kebingungan  dan Keating, melalui  tokoh Todd di film itu, telah mengubah saya. Keating mengingatkan kita semua lewat puisi Walt Whitman bahwa hidup akan terus berjalan dan ke dalamnya,”Kita bisa menyumbangkan secarik bait.”

Requiescat in Pace, Robin Williams.Engkau telah mengubah hidup minimal satu anak lelaki yang pernah demikian gemetar menghadapi hidupnya sendiri.

Pianis Amerika 10 th pecahin rekor gak kira-kira

Saya tahu sih ada 2 macam manusia di dunia ini: yang “progresif” yaitu selalu memperbaiki diri dan yang takut akan kemajuan sehingga berusaha mundur atau jalan di tempat. Nah yang pertama itu dipimpin orang-orang seperti Soekarno, Jokowi, John F. Kennedy, Barack Obama, Mahatma Gandhi, serta para ilmuwan, seniman dan atlet-atlet yang selalu memecahkan rekor prestasi. Yang kedua itu ada dua golongan sebetulnya : 1. yang memang takut, jadi mereka ikut pemimpin mereka yang: 2. sebenernya mau maju & lebih baik (rekening bank dan daerah kekuasaannya), untuk itu harus nipu mereka yang memang takut itu. Makanya mereka sibuk nebarin hoax, ngibul sana-sini, nyebarin ketakutan, kekacauan dll. Dan berhasil! Liat aja George W. Bush ngibul soal Weapons of Mass Destruction di Iraq (eh ketauan ngibulnya, Ya gapapa, toh Iraq-nya udah didapetin), atau Trump yang fitnah-fitnah para imigran. dan sekarang di Brazil tuh Jair Bolsonaro yang menangnya caranya sama: nebarin hoax, kebencian dan kerancuan berita tiap hari.

Tapi ga usah pesimis, golongan yang progresif itu kemajuannya sangat pesat sih. Saya tahu di bidang musik klasiknya, terutama di Asia (nah, ini Indonesia ketinggalan banget nih!). Bahkan tadi malam (well, pagi ini sih soalnya beritanya dari Amerika Serikat dan saya terimanya pas bangun tidur, kan beda 6 jam ama Spanyol di sini) ada berita cukup gila: ada pianis umur 10 tahun yang main Rapsodia Nusantara …. dan menang di kompetisi piano! Berarti mainnya ga cuma asal-asalan mecahin rekor pianis termuda bla bla bla dong. Eh dia kirim video rekamannya, saya cek …. eh buset, beneran gila bagus banget. Kalau kita dengerinnya sambil tutup mata, ya kita kayak ngedengerin pianis paling nggak 17 tahun, gitu. Namanya Henry Shao (ini nama keluarganya dari Cina atau Taiwan gitu ya? Ga penting lah –eh ya buat Trump penting ya, sibuk si doi ngurusin pribumi & non pribumi–, dia anak Amerika pokoknya. Yang penting: dia mainnya hebat, dan otaknya encer).

Ini berita saya dapet dari guru pianonya, Esther Chiu, yang tentu aja juga hebat banget bisa bikin anak main kayak gini. Artinya dia bisa menyesuaikan kemampuan tiap anak, bukan semata-mata ngikutin kurikulum. Henry tahun lalu menang juara ke-2 di Elizabeth Gerber Piano Competition (Ohio state) ga tau main karya apa, dan tahun ini dengan virtuositas yang udah sangat maju, dia main Rapsodia Nusantara no. 6, yang saya tulis untuk mengenang para korban tsunami Aceh (dan berdasarkan lagu daerah sana, Bungong Jeumpa). Dan para juri ya bengong lah. Ga usah para juri, saya aja yg nulis musiknya, dengerinnya juga bengong. Langsung deh saya minta izin gurunya untuk upload di kanal saya, dan dia mengizinkan. Jadi, liat aja nih, dan yuk bengong sama-sama :

https://www.vidio.com/watch/1508268

Saya sebetulnya ga peduli umur, gender, kewarganegaraan, latar belakang keluarga & kebudayaan dll. untuk suatu pencapaian karya seni yang tinggi. Kalau umur 10 tahun dan mainnya ngaco ya saya gak bakal nulis kayak gini. Jadi ini saya muji-muji bener-bener berdasarkan kualitas permainannya. Tapi yaaa …. saya tahu kesulitan nomor-nomor Rapsodia Nusantara. Memang yang no. 6 ini bukan yang paling sulit, tapi tetep aja, waktu kalian umur 10 tahun itu lagi ngapain coba? Saya umur 10 ngapain aja coba? Eh, ya main piano. Tapi ya gak main Rachmaninov, Tchaikovsky dan yang susah-susah itu juga kali (jaman dulu belum ada Rapsodia Nusantara yak, yg bikin belum lahir)! Dan terus terang, kalau nanti ada anak yang lebih muda lagi, saya bakal serem sih. Lama-lama bayi baru lahir di Zimbabwe atau pulau manaaa di samudera Pasifik yang ga ada pianonya langsung main Rapsodia Nusantara. Dan lama-lama itu Rapsodia kok jadi keliatan gampang gitu yak. Virtuositas kok jadi berkembang kayak gitu. Ini semua pasti salah pak Jokowi …..

Bare Necessities

Tau kan lagunya Baloo ‘n Mowgli di Jungle Book itu? Itu salah satu lagu favorit saya sejak dulu. Anyway, hari ini ada 2 kejadian yg keliatannya ga nyambung, tapi setelah kupikir-pikir, kayaknya nyambung ya. Dan itu bertema “The Bare Necessities” dari lifestyle saya sih.
Pertama, saya abis dengerin hasil akhir rekaman karya saya yg utk pak B.J. Habibie yg terbaru, “Sebuah Simfoni Untuk Perempuan” yang diperdanakan Agustus lalu. Saya udah bisa dengerin ini kayak pendengar biasa aja, jadi udah ga berasa bahwa saya penulisnya yang melahirkannya, dan udah ga ada baperan2nya dan berasa “aduh ini anak saya, lahir dari rahim saya” (eeeh? Emang saya punya rahim ya?). Nah, pas ending-nya tuh, I made the same mistake like I did, paling dikit 1000 x dalam hidup saya. Emang rada kurang panjang, kurang diulur-ulur gitu!
Udah ada buanyaaakkkk musikus, dari mana aja, dari instrumen apa aja, termasuk vokalis, dirigen orkes, yang komentar tiap kali abis mainin karya saya: “Coba endingnya nih ditambahin / dipanjangin dikiiiit aja, berapa birama kek, pasti akan lebih enak / asik / keren / whatever deh”. Bener deh, karena nasehat itu udah berkali-kali dikasih tau ke saya, saya selalu kepikiran. Tapi ya pas nulis musik itu ya rasanya sih udah ok, dan pas saya cobain di piano abis selesai nulisnya, ya kayaknya ok ok aja. Tapi iya sih, terutama karya-karya saya yang berakhir “jederrrr” gitu, setelah beberapa bulan kemudian saya dengerin lagi, kok iya ya kurang panjang, kurang membangun emosi lah istilah inteleknya.
Udah nih, sekarang kejadian kedua. Saya tulis kayak naskah drama aja ya.
AS (saya) : Ali (ini panggilan anakku, Alicia), bantuin dong install WhatsApp ke laptop saya dong.
AP (Alicia Pirena, walaupun harusnya pake Sukarlan juga sih, tapi biar ga bingung AS ama AS deh) : OK. (setelah beberapa menit) Pa, komputer ini udah ketuaan. Mesti install / update bla bla bla …. lama deh. Anyway, Pa, itu komputer mbok ya diganti. Kayak ga punya duit aja. Lagipula ga malu ya, keliatan orang punya komputer tua gini padahal katanya komponis ngehitzz gitu?
AS : Duhhh males, soalnya aku udah enak. Udah tau icon Sibelius di mana, gaptek berat deh.
Anyway, komputerku emang sejak 2012 (apa bahkan 2011 ya?) masih yang ini-ini juga. Dan believe it or not, dulu emang suka aku pake buat email, tapi sekarang dgn adanya smartphone, komputer ini cuma dipake satu program, yaitu SIBELIUS, untuk ngetik not balok ke kertas pentagram. Ngetik doang loh, dengan program yang harusnya bisa canggih ini! Well, mungkin ada hal-hal lain yg bisa dilakukan Sibelius, tapi itu pun aku cuek. Bahkan Sibelius yang kupakai ini versi yang udah antiiikk banget, karena emang saya udah nyaman memakainya. Paliiiing banter ya convert ke MIDI, yaitu not-not itu bisa bunyi kayak mesin, tapi itu kan sangat robot ya, jadi bunyinya juga juueelleeekk banget (biasanya kalau saya denger versi MIDI musik saya, saya langsung mau lompat dari …. eh dari mana ya, appt saya di Jakarta cuma lantai 2, rumah saya di Spain juga cuma 2 lantai, kalau lagi nginep di hotel kacanya tuh tebel banget susah mecahnya. Jadi ya ga bakal mati, paling benjol aja).

Liat ga hubungannya? Kesimpulanku, ternyata saya emang orangnya cuma butuh “bare necessities” kayak Mowgli. Baju juga pinginnya pake kaos doang, dan celana pendek (eh tapi ini lagi musim gugur udah dingin sih). Ga nyangka kan? Di dalam musik, kalau saya ngrasa udah kelar ngoceh apa yg mesti diocehin, yaudah, kelar. Ga perlu ditambah-tambahin biar drama, bertele-tele dan dibikin bombastis. Soalnya emang saya ga suka drama, yang sebetulnya salah besar karena kerjaan saya di seni pertunjukan, yang notabene justru harus mendramatisir semuanya. Hidup udah kayak roller coaster, masih mau didramatisir lagi?? Saya sih sukanya drama ON STAGE, tapi jangan OFF STAGE lah. On stage maksudnya di musik saya …. tapi kok ya ternyata juga masih kurang drama pas endingnya ya? Tapi apa saya tuh konservatif? Nggak sih. Bahkan saya ngrasa saya sangat progresif. Saya cuma …. ya gini deh. This is me, just the way I am (loh kok kayak Billy Joel). Yang pasti walaupun saya ngefans berat Freddie Mercury, definitely Oh no, I am a great pretender NOT.