[KLIPING] Ananda Sukarlan: Harusnya Jakarta Seperti Salzburg dengan Adanya Ismail Marzuki

Pernah dengar sebuah kota di Austria bernama Salzburg? Salzburg ini merupakan kota ke-4 terbesar di Austria. Setiap tahun, kota ini menjadi tujuan wisata turis dari berbagai belahan dunia.

Kota Salzburg ini, juga menjadi kota situs kebudayaan dunia yang ditetapkan oleh salah satu lembaga dunia yaitu UNESCO pada tahun 1997. Kota ini memang indah karena berada di pegunungan Alpen

Lantas mengapa kota ini menjadi situs kebudayaan dunia? Salah satunya adalah karena kota ini merupakan kelahiran komponis besar dunia, Wolfgang Amadeus Mozart. Kita singkat dengan Mozart saja ya.

Meskipun saya bukan seorang penggemar musik klasik, tapi nama Mozart ini bukanlah seseorang yang asing. Karyanya dimainkan oleh berbagai musisi dunia. Dan karyanya ini terus dimainkan hingga saat ini meskipun sudah berusia ratusan tahun.

Inilah yang menjadi salah satu obesesi Ananda Sukarlan di diskusi sekaligus press conference mengenai Konser Tahun Baru dia yang akan digelar 13 Januari 2019 nanti di Ciputra Artpreneur.

Ananda bukan ingin memainkan karya Mozart. Ananda ingin memainkan karya salah satu maestro Indonesia yang dikenal dengan Bing Crosby Kwitang tersebut di konser tahun barunya tersebut. Alasan Ananda simpel, karena melodi lagu-lagu Ismail Marzuki sangat indah.

Alasan lainnya adalah, Ananda ingin agar Jakarta juga seperti Salzburg. Dikenal dunia karena ada salah satu maestro musik yang bernama Ismail Marzuki ini. “Jadi, orang mengenal Jakarta juga karena Ismail Marzuki,” tegasnya.

Hal lain yang menjadi obsesi atau keinginan besar Ananda Sukarlan adalah, karya-karya dari Ismail Marzuki ini dimainkan oleh musisi dunia. Bukan hanya di Indonesia saja, tapi karya Ismail Marzuki ini lebih mendunia.

Harapan lain dari seorang Ananda, karya-karya Ismail Marzuki ini juga bisa dimainkan sepanjang waktu. Karya Mozart, seperti diceritakan Ananda, dimainkan sepanjang masa. Berbeda dengan musik pop, rock, atau musik lainnya, karya Mozart sering sekali dimainkan.

“Saya ingin, karya Ismail Marzuki ini dimainkan terus-menerus. Bukan hanya oleh musisi Indonesia saja, tapi oleh musisi kelas dunia,” ujarnya.

Konser Millennial Marzukiana ini, bagi Ananda merupakan titik awal untuk memulai obsesinya tersebut. Tanggal 13 Januari akan menjadi pembuktiannya.

Mau membeli tiketnya? Ada di loket.com dan kaya.id.

Sumber: BaciritaID

Advertisements

Ananda Sukarlan di Erasmus Huis

Pusat Kebudayaan Belanda, “Erasmus Huis” kembali dibuka setelah direnovasi selama 3 bulan, dan mereka meminta komponis Ananda Sukarlan untuk memainkan konser perdana pembukaannya. Acara tersebut diselenggarakan hari Rabu 21 November lalu. Ananda mengajak 2 koleganya: pemain cello dari Estonia, Vahur Luhtsalu dan pemain biola muda Indonesia, Danny Robertus.
Trio ini membawakan 4 karya Ananda:

  1. Intermezzo dari opera Saidjah dan Adinda untuk piano, biola dan cello
  2. Angry Birds Holiday to Bali untuk piano dan cello
  3. Sweet Sorrow (from Romeo and Juliet) untuk piano dan biola.
  4. A Love song, sebuah karya permintaan BJ Habibie untuk mengenang almarhum istrinya, untuk piano, cello dan biola.

Setelah itu, diperdanakan karya baru Ananda yang ditulis khusus untuk pembukaan kembali gedung ini: sebuah karya Duo untuk biola dan cello berjudul “Passacaglia on ‘Soleram’ ” yang memukau penonton karena Ananda berhasil mengeksplorasi dengan brilian virtuositas dua musikus tersebut.

Hadir dalam acara pembukaan itu Dubes Belanda, Rob Swartbol, direktur Erasmus Huis Michael Rauner yang sekaligus menyampaikan perpisahannya karena masa tugasnya yang sudah berakhir dan akan pulang ke Belanda akhir bulan ini, dan sejumlah Dubes serta perwakilan asing lainnya.

Sumber: https://kincir.wordpress.com/2018/11/25/keren-lho-ada-ananda-sukarlan-di-erasmus-huis/

Ananda Sukarlan & Moeldoko Bahas Potensi Besar di Bidang Seni dan Budaya

Bersama mas Addie MS, kemarin saya bertemu dengan Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn.) Dr Moeldoko dalam Forum Group Disscusion (FGD) manajemen talenta bidang seni dan budaya dengan beberapa narasumber ahli, Selasa, 6 November 2018 di Gedung Bina Graha, Kantor Staf Presiden, Jakarta. Beliau punya apresiasi sangat besar terhadap seniman dan pekerja kreatif di Indonesia.

“Indonesia mempunyai banyak orang hebat di bidang seni dan budaya, namun potensi-potensi ini belum dikelola secara baik. Maka dari itu, dibentuk sistem manajemen talenta untuk mengelola talenta yang ada sehingga berkontribusi dan berdampak bagi kemajuan nasional, ” katanya.

Dalam pertemuan ini juga ada Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid yang menyatakan bahwa ada potensi luar biasa namun belum dirumuskan. Empat hal yang perlu dilakukan yaitu perlindungan budaya, pengembangan budaya, pemanfaatan yang dihasilkan dari perkembangan budaya, dan pembinaan kepada Sumber Daya Manusia.

Sedangkan Frans Sartono, Direktur Program Bendera Budaya mengatakan bahwa selama ini minimnya ruang dan panggung menjadi hambatan bagi pelaku seni.

“Kita tidak memiliki panggung. Panggung di dunia hiburan hanya menekankan aspek komersil, menarik iklan saja. Butuhnya ruang bagaimana orang-orang yang tidak mendapatkan panggung kita berikan wadah,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini saya menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan oleh seniman untuk mendukung dan menyemangati para penyandang disabilitas, misalnya memberi contoh permainan piano dengan satu tangan, sehingga bagi anak-anak yang hanya punya satu tangan, tidak patah semangatnya saat ingin belajar musik.

Begitu juga dengan Yayasan Musik Sastra Indonesia, yang diharapkan bisa dikembangkan lagi dengan dukungan pemerintah.

Muh. Abduh Aziz, kepala Koalisi Seni Indonesia yang juga hadir menyarankan pemerintah untuk memastikan sistem pendidikan riset dan pengembangan yang mendukung. “Sudah banyak agen yang menangani manajemen talenta seperti sanggar dan komunitas. Tugas kita bagaimana memperkuat agen tersebut untuk memperkuat program yang baik dan menghubungkan agen talenta dengan pemerintah dari pada membuat institusi baru,”

Kliping berita dari http://ksp.go.id/potensi-besar-di-bidang-seni-dan-budaya/

Rapsodia Nusantara: Kenalkan Indonesia ke Dunia Internasional

Walau sudah mendunia, Ananda Sukarlan terus memberikan sumbangsihnya kepada musik asli Indonesia. Bahkan pianis dan komponis andal yang kini lebih banyak menetap di Spanyol itu, juga membuat komposisi bertajuk Rapsodia Nusantara untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional.

“Rapsodia Nusantara yang saya ciptakan ini adalah serangkaian lagu daerah yang diaransemen ulang menjadi musik klasik dan dimainkan dengan piano,“ tegas Ananda Sukarlan, saat dihubungi Cendana News, Jumat (2/11/2018).

Lelaki kelahiran Jakarta, 10 Juni 1968 itu membeberkan, bahwa tiap komposisi mewakili satu lagu rakyat dari satu provinsi.

“Sejauh ini sudah ada 24 komposisi. Namanya semua ya Rapsodia Nusantara, yang membedakan adalah nomornya,“ bebernya.

Ananda membuat Rapsodia Nusantara sebagai cara dirinya memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional.

“Orang asing akan lebih mudah memainkan karena ini pakai piano. Jauh lebih praktis daripada menyuruh mereka ke mana-mana membawa gamelan apa kulintang, misalnya,“ terangnya.

Saat ini, lanjut Ananda, ia juga sedang mengerjakan Rapsodia Nusantara Nomor 25, berdasarkan lagu rakyat dari Belitung.

“Saya ingin mendedikasikan kepada seseorang asal sana yang saya kagumi, yaitu Pak Ahok,“ ungkapnya.

Menurut Ananda, tiap nomor memiliki notasi yang virtuositas khas sehingga menghasilkan musik kelas dunia.

Kliping dari: https://www.cendananews.com/2018/11/rapsodia-nusantara-kenalkan-indonesia-ke-dunia-internasional.html

Ananda Sukarlan: Blogger ini Terinspirasi oleh Bu Susi, Baca Bu!

Saat perayaan Hari Blogger Nasional, Ananda Sukarlan memberi pujian kepada blogger yang menurutnya konsisten menulis dan bagus kualitasnya.

“Untuk #HariBloggerNasional saya pilih blog bagus tentang #perempuan yang ditulis dengan sangat sharp n smart oleh @JuliePutra. Baca deh, dan yang setuju, RT,” katanya.

Mendapat perharian seperti itu, Julie Putra merasa tersanjung, “Aaaakkk ini surprise banget! Makasih mas @anandasukarlan!! Semoga bisa menguatkan para wanita dan menginspirasi para pria. Ngomong-ngomong wanita keren saat ini yang kepikiran sama aku tuh bu @susipudjiastuti. Semoga beliau baca ini sebagai bentuk penghormatanku,” demikian kata @JuliePutra.

Dalam tulisannya, Juliana Putra mengungkapkan kekagumannya tokoh Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia yang ditulis Pramoedya Ananta Toer. Dia ceritakan masa lalu Nyai Ontosoroh yang merupakan seorang perempuan yang waktu kecil dijual oleh ayahnya sendiri kepada Tuan Mellema, pengusaha Belanda. Dan pada akhirnya Tuan Mellema tunduk di kaki Nyai Ontosoroh.

“Seorang “Godmother” yang melawan kodratnya sebagai perempuan pribumi tak terpelajar. Yep, apalah sebutan “nyai” atau profesi “gundik”? itu hanyalah sebuah sebutan yang ternyata tidak relevan dengan identitas perempuan bernama Sanikem itu. Itu juga kenapa saya termasuk golongan yang mengamuk ketika tahu buku Pram akan difilmkan dan seolah-olah buku beliau hanya menceritakan roman Minke dan Annelies. Pram tidak akan mungkin menulis cerita sebegitu murahnya. #emosi,” tulis Juliana Putra.

Juliana Putra menulis tokoh  Nyai Ontosoroh berkali-kali tidak hanya menginspirasi, tetapi menguatkannya untuk bisa menjadi seorang perempuan yang sesungguhnya, diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang tegar.

Sumber: https://akurat.co/news/id-366808-read-ananda-sukarlan-bu-susi-pudjiastuti-mohon-baca-bu-blogger-ini-terinspirasi-oleh-ibu

 

Undangan Alicia’s Piano Books

Dear teman-teman bloggers

Dengan segala kerendahan hati kami ingin mengundang anda untuk datang dan meliput pertunjukan kami, “Alicia’s Piano Books” yang merupakan kerjasama saya dengan para penari dengan keterbatasan fisik dari Inggris yang tergabung dalam Can Do Dance Company (Candoco). Mereka juga akan melatih beberapa penari Indonesia dengan disabilitas, dan bersama-sama kami ingin mempersembahkan hasil kerjasama kami

Di Galeri Nasional, Jakarta (Jl. Medan Merdeka Tim. No.14, RT.6/RW.1, Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110)

Hari Sabtu, 13 Oktober 2018

pukul 16.00.
Pertunjukan ini gratis & terbuka untuk umum, tapi mohon reservasi melalui menjawab email ini atau ke Chendra 0818 891038 untuk menyediakan kursi bagi anda.

Sedikit keterangan tentang pertunjukan ini bisa dibaca di

http://www.netralnews.com/news/hiburan/read/159754/ananda-sukarlan-kerjasama-dengan-penari-keterbatasan-fisik

Besar harapan kami bahwa Anda dapat hadir dan menikmati serta meliput kerjasama yang belum pernah dilaksanakan sebelumnya di Indonesia ini. Semoga dapat menginspirasi anda.

Pianistically yours,

Ananda Sukarlan, juga mewakili Can Do Dance Company & Ananda Sukarlan Center.

Manari Manasai

Pukul gendang garantung,
Haayak dengan kangkanung,
Sambil tuntang gantau,
Miar mundur dan maju,
Bahalai dan salendang,
Imeteng intu kahang,
Ngaliling sangkai lunuk,
Je impendeng hang bentuk,
Ayu menari manasai, menari menasai
ela atu je melai …..2x
Bekas tuntang tabela,
Keleh itah mahaga,
Kesenian daerah,
Ayun tatu weh itah,
Pukul gendang garantung,
Hayak dengan kangkanung,
Mangat itah tau ingat,
Putus itah je bawhan.

 

Asal lagu: Kalimantan Tengah