Tentang Bullying dan Being Bullied

Sejak wawancara wartawan terkemuka Desi Anwar dengan saya di Metro TV tahun 2012, dimana saya membuka diri sebagai pengidap Tourette & Asperger’s Syndrome, banyak orang tua telah mengirim pertanyaan ke saya tentang kemungkinan anak mereka mengidap sindrom yang sama. Sejak itu saya telah bertemu puluhan orangtua beserta anaknya, dimana saya bisa bertukar pikiran & pengalaman. Saya bukan ahli autisme dan Asperger’s Syndrome karena sindrom itu sangat kompleks, jadi mereka dan saya sama2 belajar dari tukar pengalaman ini.
Ada satu hal yang menjadi satu paket dengan sindrome di atas, yaitu “bullying” (“perundungan” adalah istilah yang baru saya temukan dari berita di Media Indonesia. Baca juga wawancara saya dengan mereka di sini http://mediaindonesia.com/read/detail/113404-ananda-sukarlan-perundung-adalah-pengecut ) dari teman-teman sekelas mereka. Siapapun pengidap sindrom dari spektrum autisme pasti akan dianggap “aneh”, sehingga menjadi sasaran empuk untuk perundungan.
Merundung dan dirundung adalah bentuk pelecehan yang menoreh luka yang mendalam pada jiwa seseorang. Banyak anak-anak bahkan teman masa kecil yang telah menjadi dewasa masih suka bermimpi buruk baik sebagai korban ataupun keinginan untuk merundung seseorang sebagai sarana untuk menunjukkan superioritas mereka dalam situasi yang dirasakan menuntut mereka yang berasal dari rasa rendah diri mereka. Saya baru tahu setelah saya lulus sekolah, bahwa para perundung juga mengalami penderitaan, sehingga mereka butuh melakukannya. Itu sebabnya saya memaafkan mereka yang telah melakukannya ke saya waktu saya masih kecil/remaja. Bahkan saya melihat banyak kasus, korban perundungan (yang ‘survive’ tentu saja) bisa lebih tegar dalam meniti karir dan kehidupan kita, sehingga kelihatannya banyak yang lebih sukses. Paling tidak, saya melihat mereka yang dulu melakukannya ke saya, ada beberapa yang ternyata tidak terlalu sukses, paling tidak dalam karir mereka.

Tidak ada yang bisa terbiasa / menyesuaikan diri dengan baik memori perundungan ini dalam kehidupan dewasa. Trauma dan efeknya tetap bersama kita selamanya. Namun saya percaya kita bisa dengan tulus dan penuh kasih membantu seorang perundung atau korban perundungan untuk berdamai dengan dirinya sendiri, bukan dengan melecehkan atau menghakiminya tetapi dengan mendengarkan keluhan mereka dan menerima cerita mereka dengan apa adanya. Memang hal itu tidak akan secara instan “menyembuhkannya”, tapi cara kita itu diharapkan akan membantu mereka mengurangi (bukan melupakan, karena itu hal yang mustahil) trauma atas apa yang terjadi pada mereka. dan membuat memori kejadian itu menjadi tidak terlalu menyakitkan dalam kenangan mereka.
Jika seseorang terus menerus menjadi korban, ia akan dipenuhi rasa malu atau rendah diri. Jika ia (terlalu) sensitif, rasa malu itu akan membuatnya menyalahkan dan akhirnya menyerang diri mereka sendiri, bahkan sampai bunuh diri.

Jadi, bahkan jika anda tidak menyadarinya, perundung di masa kanak-kanak telah mengubah hidup mereka yang jadi korbannya … dari karier hingga hubungan antar manusia sampai usia lanjut, bahkan selamanya.

Advertisements

Ayo Mulai Perubahan, dari Diri Kita, dari Apa yang Kita Bisa!

Salam dari Singapura! Saat ini saya sedang di Raffles Marina, dimana kapal Rainbow Warrior dari Greenpeace sedang merapat. Rabu nanti saya akan menjadi pianis pertama di dunia yg akan main piano di atas kapal itu, dan orang Indonesia pertama yang menjadi ikon atau influencer untuk kampanye Greenpeace.

Apa yang sedang kami kampanyekan? Perusakan hutan di Papua, dan Indonesia pada umumnya. Penggundulan hutan yang sedang berlangsung selama dekade terakhir telah menjadikan Indonesia sebagai penghasil emisi karbon dioksida terbesar di dunia, dan peringkat pertama untuk intensitas emisi relatif terhadap PDB.

Sejak tahun 2014, kebakaran hutan di Indonesia memproduksi lebih banyak CO2 ke atmosfer setiap hari daripada seluruh produksi CO2 di Amerika Serikat dalam satu hari, dan secara kumulatif melampaui emisi tahunan Jerman.

Tapi bukan hanya kebakaran hutan saja yang membuat Indonesia menjadi “produsen bencana” di dunia. Pencemaran laut dan sungai juga cukup parah. Citarum, misalnya, katanya menjadi sungai terkotor di dunia menurut World Bank. Kendati merupakan sungai yang keadaan airnya jauh dari standar layak, warga di sekitar aliran sungai Citarum tetap menggantungkan hidup mereka di sini. Persoalannya ternyata tidak sederhana, menyangkut kebutuhan untuk bertahan hidup dan ikatan emosional yang sudah lama terbentuk. Kini persoalan Citarum telah diambil oleh pemerintah pusat pimpinan Jokowi, dan syukurlah proses pembersihan Citarum sedang berlangsung.

Indonesia telah menjadi korban eksploitasi Dan keserakahan penguasa begitu lama. Memperbaikinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun jika tidak ada yang tergerak untuk memulai, maka selamanya kita akan menangis merana meratapi nasib Ibu Pertiwi. Maka ketimbang terus berteriak tanpa hasil, Coba mulai duli dari Diri Kita, dari Apa yang Kita Bisa!

Pak Jokowi Ga Ade Matinye! #JKWKarajoSumbar #MalajuBasamoJokowi

Kalau gak salah, baru beberapa bulan lalu pak Jokowi meresmikan jalan tol trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar di Lampung. Pak Jokowi memang terus berupaya meningkatkan daya saing negara dengan membangun infrastruktur yang merata di seluruh Tanah Air. Tujuannya ya meningkatkan ekonomi lewat transportasi, turisme dan lain2nya. Ingat nggak, tahun lalu beliau meresmikan bandara Silangit di dekat Danau Toba? Bandar udara yang terletak di Siborong-Borong, Sumatera Utara, ini sejatinya sudah beroperasi sejak 2011. Dengan perluasan yang dilakukan, Bandara Silangit diharapkan dapat memperkuat geliat pariwisata di kawasan sekitar Danau Toba.

Bandara ini jadi gerbang bagi turis mancanegara asal Singapura, Malaysia, hingga China untuk berwisata ke Danau Toba.

Waktu tempuh menuju Danau Toba pun makin singkat. Jika menggunakan Bandara Kualanamu, turis membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai di Danau Toba. Dengan adanya Bandara Internasional Silangit, kita hanya perlu satu jam saja.

Nah, aku dengar besok pak jokowi akan meresmikan kereta bandara Padang. Terima kasih Pak Jokowi! Kalau ada link berita2 tentang ini, silakan komen disini ya, teman2

Baca juga:

Artikel dari ketua relawan Jong Melayu dan J2P yang mengapresiasi Kereta Bandara Padang

Lend Your Hand, Fight Terrorism!

ananda

Para teroris yang sudah tidak memiliki perasaan sudah tahu bahwa kita selalu melakukan hal yang sama setelah setiap serangan. Satu menit doa dalam keheningan.

Lilin, bunga, teddy bear, musik, lalu … lupa. Lupa sampai para teroris kembali menunjukkan cakarnya dan ritual yang sama pun diulang. Menit-menit hening yang biasa, lilin yang meleleh, bunga-bunga kering, teddy bears yang tertutupi debu, tindakan penolakan dalam bentuk konser musik melawan kekejaman yang kejam dan tak manusiawi.
Para sponsor teroris tertawa , memuja dewa kematian, memancarkan ancaman mereka melalui media sosial dan terus merencanakan serangan berikutnya. Mereka sadar bahwa tidak ada yang akan berubah dan seiring waktu, segalanya, tentu saja semuanya, dilupakan. Yang bagi kita kaum menengah adalah perang, bagi mereka itu adalah metode mendapatkan kekayaan dan kekuasaan.

Di banyak pemerintahan negara Eropa, mereka berkata bahwa kita harus terbiasa dengan serangan, penyiksaan, bom, penusukan, pemerkosaan, dan taktik teroris lainnya tanpa akhir yang memberi begitu banyak pendapatan kepada para penguasa zholim.

Pesan yang Anda kirimkan kepada para teroris adalah bahwa Anda terus membunuh, bahwa kita akan tetap diam, dengan menit keheningan, lilin, bunga, boneka beruang, dan konser gas air mata kita. Bahwa musik tidak dapat menjinakkan kebiadaban.

Pemerintah Eropa meminta kami, agak memaksakan, untuk terbiasa hidup dengan para teroris.

Maka janganlah kita mengulangi kesalahan yang sama. Kita cinta damai, tapi seringkali kedamaian hanya dapat diraih dengan serangan balik. Lilin, doa dan musik bukan simbol kepasrahan, tapi pemersatu kita menjadi alat Tuhan untuk memperjuangkan kedamaian tersebut.

Kini saatnya kita bangkit melawan. Pukul 19:00 hari ini yuk berkumpul bersama ribuan masyarakat lainnya dengan baju putih di Bunderan HI!

Bersama-sama kita akan menghaturkan doa untuk bangsa dan negara, untuk semua korban bom di Surabaya dan Mako Brimob, serta memberikan dukungan kepada Pemerintah dan kemanan untuk mengejar pelaku sampai tuntas, diberi hukuman seberat-beratnya. Jangan biarkan ibu pertiwi menangis lagi.

Jadilah bagian dalam gerakan ini, berhentilah cuma diam, karena #terorismusuhbersama

 

Mereka Sendiri adalah Korban

Beberapa hari belakangan saya melihat berita di medsos dan televisi, mengenai pemboman serentak di gereja-gereja Surabaya. Tak kurang dari 43 korban cedera, dan 13 orang meninggal dunia karena disulut oleh rasa benci yang tak beralasan.

Izinkan saya berbelasungkawa. Bukan untuk korban saja, tapi juga pelakunya.

“The real terrorists” bukan mereka yg membunuh di lapangan, bukan. Mereka hanya orang-orang bodoh, mereka juga korban. The real terrorists adalah mereka yg memanipulasi serta mensponsori tindakan mereka.

Terorisme adalah sebuah bentuk perang, dan perang butuh pemimpin dan pendana. Ini perang jiwa, perang psikologis. Terorisme mencoba memanipulasi emosi kita dan mengubah perilaku kita dengan menciptakan kebencian, ketakutan, ketidakpastian, dan akhirnya perpecahan dalam hubungan antar sesama yang akhirnya memecah belah kita semua.

Tantangan kita sekarang adalah : tetap bersatu.

Baca juga:

  1. Kecaman atas pemboman Geraja Surabaya oleh Ketua Umum Projo.
  2. Kecaman serupa oleh Relawan Jokowi Jong Melayu, Ina Surbakti
  3. Analisa atas gejolak nilai tukar rupiah dan IHSG sebelum dan setelah teror oleh Kartika Djoemadi

 

Jangan Pakai Agamaku untuk Alasan Membunuh!

Sejak tanggal 8 Mei 2018 kemarin, berbagai berita, meme, foto, bahkan liputan live dari dalam Mako Brimob memperlihatkan kebiadaban teroris menyiksa dan membunuh polisi.

Sedih sekali melihat agamaku dipakai para bajingan2 teroris untuk menyiksa dan membunuh lima polisi-polisi muda dengan cara yang sangat biadab 😭. Mereka yang gugur itu adalah pahlawan bangsa. Bajingan-bajingan teroris itu hanya makhluk rendah yg merampas agamaku, negeriku, kemerdekaanku. Mereka tidak layak disebut orang Indonesia, mereka tidak layak disebut umat Islam.

Peristiwa ini juga membangunkan kita, bahwa terorisme, walaupun kelompoknya sudah dibubarkan, ideologinya tetap ada dan merupakan sel tidur yang bisa bangun kapan saja.

Itu sebabnya ideologi terorisme harus diberantas sampai akarnya. Terorisme bermula dari sikap intoleransi: tidak dapat menerima perbedaan, memaksakan kehendak dan menolak keberagaman kita. Melawan terorisme harus dimulai dari melawan intoleransi. Melawan inteloransi harus dimulai sejak kecil, dari pendidikan keluarga dan sekolah.

#KamiBersamaPOLRI.

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa

Kami yang mencintai Indonesia

 

Ananda Sukarlan

Muslim, Penggubah Rapsody Nusantara

 

Lihat pula:

Budi Arie Setiadi: Terorisme Melawan Kemanusiaan!

Analisa pengaruh terorisme di Mako Brimob Kelapa Dua Depok oleh Komisaris Danareksa, Dyah Kartika Rini Djoemadi

Adakan Nonton Bola Piala Dunia, Relawan Kebanjiran Dukungan

Tak mau ketinggalan menyambut Piala Dunia 2018 yang segera hadir, relawan Jokowi berencana menggelar kegiatan Nonton Bola Piala Dunia 2018. Kegiatan Nonton Bola Piala Dunia 2018 akan menjangkau seluruh pelosok nusantara. Bukan sekadar menonton, panitia pun melekatkan kegiatan ini dengan tema “Dengan Bola Kita Damai, Guyub dan Bersatu”.

Saat ini dari sekretariat di Jalan Borobudur 18, Jakarta Pusat, Panitia Nonton Bola Piala Dunia 2018 tengah mempersiapkan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Panitia Nonton Bola Piala Dunia 2018. Rencananya rakornas tersebut akan digelar pada tanggal 12-13 Mei mendatang di Jakarta.

Panel Barus, Ketua Pelaksana Panitia Nonton Bola Piala Dunia 2018, mengingatkan bahwa pertandingan pertama Piala Dunia 14 Juni 2018 nanti kemungkinan bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri 1439 H. Pendapat Panel, dalam suasana Lebaran saat masyarakat mungkin masih memegang duit THR kegiatan nonton bola bareng memiliki potensi ekonomi yang lumayan menjanjikan. “Saat ada tontonan di bawah, tontonan ini jadi hiburan masyarakat, apalagi sepakbola Piala Dunia. Akan terjadi transaksi sangat besar di tempat tontonan tersebut. Misanya kopi, kue, mie. Itu akan menggerakkan ekonomi pedesaan,” pungkas Panel.

Joanes Joko, Sekretaris Umum Panitia Nonton Bola Piala Dunia 2018, pun menimpali: “Kalau sudah urusan bikin acara nonton bola, semua orang pasti sudah pernah nonton bola. Jadi tanpa perlu persiapan atau adaptasi macam-macam, kita bisa menggerakkan orang untuk bersama-sama nonton.”

Hal tersebut diamini pula oleh Budi Arie Setiadi sebagai penanggung jawab kegiatan ini. “Kami berharap Nonton Bola Piala Dunia 2018 ini menjadi sarana untuk membuat Indonesia menjadi guyub, damai dan bersatu,” tegas Budi Arie.

Beberapa pihak yang dimintai tanggapan menyambut positif kegiatan ini. “Nonton bareng Piala Dunia 2018 ini sekaligus merupakan ajang silaturahim nasional yang paling ditunggu-tunggu oleh hampir seluruh warga negara Indonesia, karena sepak bola merupakan salah satu olah raga yang paling kita sukai,” demikian komentar Kartika Djoemadi. Kartika berasal dari Jasmev, salah satu organ relawan Jokowi yang bergerak dalam kancah media sosial.

Ulin Yusron, juga salah seorang penggerak relawan media sosial, mengungkapkan dukungan serupa: “Dunia menyatukan semua penggemar bola sedunia tanpa membedakan suku, agama, ras dan antar golongan. Sepak bola adalah olah raga yang penuh sportivitas bagi pemain maupun penonton. Ada respect antara pemain maupun penonton. Begitulah hidup kita seharusnya.”

Ananda Sukarlan, komponis dan pianis yang giat menyebarkan pesan kebhinekaan lewat serial karyanya, Rapsodia Nusantara, antusias dengan niat menyatukan relawan lewat olahraga.  “Enjoy yah yang pada ikutan. Jangan lupa bawa cemilannya, jangan biskuit yg kebanyakan micin lho hiihihi,” kata Ananda.

Sementara Ira Lathief, penggerak Gerakan Wisata Bhinneka juga menganggap ide mengangkat nonton bola bersama adalah cara kreatif untuk merajut persatuan dan kesatuan berbagai golongan dari berbagai ideologi dan pandangan politik, termasuk ras, suku, dan agama. (hrd/Tim Humas dan Media)

Ini adalah kliping berita dari: gerakrelawan.org