Goro-Gorone

Goro gorone epetoka toka dia
Loko sana loko mari loko lengso lamanari
Kata nyong minta nona sioh nona e balagu
Dengar donci su babunyi sioh nona sandar bahu

meski nona dudu jauh belum di panggil su manyau
Laju laju la lekas datang kemari e
Pura pura tidak mau belum ditanya sumanyau
la itu nona punya suka sandiri

la la la la la la
la la la la la la ..

Asal lagu: Maluku

Advertisements

Rambadia

Rambadia ramba munadaito
Rio rio ramba naposo
Marga dia marga munadaito
Sapa sapa naso umboto

Ala tipang tipang tipang polo labaya
Ala rudeng rudem rudem rudempong
Ala tipang tipang tipang polo labaya
Ala rudeng rudem rudem rudempong

Ramba anggo ramba nami daito
Parasaran ni amba roba
Marga anggo nami daito
Inda datar pa boa boa

Ala tipang tipang tipang polo labaya
Ala rudeng rudem rudem rudempong
Ala tipang tipang tipang polo labaya
Ala rudeng rudem rudem rudempong

Asal lagu: Sumatera Utara

 

Manuk Dadali

Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang
Meberkeun jangjangna bangun taya karingrang
Sukuna ranggaos reujeung pamatukna ngeluk
Ngapak mega bari hiberna tarik nyuruwuk

Saha anu bisa nyusul kana tandangna
Gandang jeung pertentang taya bandingannana
Dipikagimir dipikaserab ku sasama
Taya karempan kasieun leber wawanenna

Manuk Dadali manuk panggagahna
Perlambang sakti Indonesia Jaya
Manuk Dadali pangkakon carana
Resep ngahiji rukun sakabehna

Hirup sauyunan tara pahiri-hiri
Silih pikanyaah teu inggis bela pati
Manuk dadali ngandung siloka sinatria
Keur sakumna Bangsa di Nagara Indonesia

Asal lagu: Jawa Barat

Ampar-Ampar Pisang

Ampar-ampar pisang
Pisangku balum masak
Masak sabigi, dihurung bari-bari 2x
Masak sabigi, dihurung bari-bari 2x

Manggalepak, manggalepok
Patah kayu bengkok
Bengkok dimakan api,
apinya kakurupan
Bengkok dimakan api,
apinya kakurupan
Nang mana batis kutung, dikitip bidawang 2x

Jari kaki sintak, dahuluakan masak 2x

Ampar-ampar pisang
Pisangku balum masak
Masak sabigi, dihurung bari-bari 2x
Masak sabigi, dihurung bari-bari 2x

Mangga ricak, mangga ricak
Patah kayu bengkok
Tanduk sapi, tanduk sapi, kulibir bawang 2x

Asal lagu: Kalimantan Selatan

Mengapa Rapsodia Nusantara?

Saya ingin menunjukkan identitas Indonesia ke dunia lewat komposisi musik klasik Rapsodia Nusantara untuk piano solo.

Musik saya adalah musik klasik Indonesia, saya berusaha mencari identitas musik Indonesia melalui Rapsodia Nusantara.

Dibandingkan dengan alat musik tradisional seperti gamelan dan lainnya, piano ini mudah dan ada di mana-mana. Karya saya dapat dimainkan pianis di seluruh dunia.

Saat ini Rapsodia Nusantara terdiri atas 23 nomor. Saya ingin membuat Rapsodia tersebut hingga paling sedikit nomor 34, mewakili setiap provinsi di Indonesia.

Dalam membuat komposisi, saya menggunakan pendekatan tradisi klasik seperti yang dilakukan Mozart, Beethoven dll., di mana musik yang dimainkan punya struktur berbeda-beda serta teknik pianistik yang virtuosik.

Meski memainkan instrumen dengan gaya Barat, musik Indonesia tetap memiliki perbedaan dengan musik Barat.

Cara memainkan pianonya seperti musik klasik “Barat”, tetapi kemudian elemen-elemenya sangat etnis, seperti nada, ritme, dan tangganadanya.

Musik Indonesia meliputi musik dari berbagai suku dan daerah yang membentuk entitas kebangsaan itu sendiri.
Itulah yang membuat tantangan, karena setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri

Saidjah & Adinda

Screen Shot 2018-08-15 at 3.42.04 PM.png

Foto: Soprano Mariska Setiawan, foto oleh Ryan Tandya

Sejak saya kuliah musik di Belanda awal 1990, saya memiliki keinginan utk membuat musik tentang / berdasarkan karya dari Multatuli (Douwes Dekker). Apalagi museum Multatuli itu (yang sangat dekat dgn Anne Frank House di Amsterdam) sangat inspiratif buat saya sebagai orang Indonesia.

Itu sebabnya sewaktu Museum Multatuli di Rangkasbitung meminta saya untuk membuat sesuatu dari karyanya, saya langsung mengiyakan. Masalahnya, saya hanya diberi beberapa minggu untuk menulisnya, dan saya juga harus mengirimkannya kepada para musikusnya dengan cukup tenggang waktu untuk mereka mempelajarinya.

Saidjah & Adinda selalu ada di benak saya, apalagi saya sudah sering bekerja dengan 2 penyanyi yang kebetulan keduanya lahir dan tinggal Di Surabaya, soprano Mariska Setiawan dan tenor Widhawan Aryo Pradhita. Semesta tiba-tiba mendukung semuanya!

Untuk itu, saya mengambil 2 adegan saja untuk September ini, yaitu dialog Saidjah dan Adinda sebelum Saidjah meninggalkan kampung halaman, dan saat kembalinya Saidjah tapi menemukan Adinda sedang sekarat tertusuk oleh tentara Belanda.

Selain itu saya juga mengambil adegan awal, saat Saidjah masih sangat muda dengan ayahnya, kemudian ayahnya ditangkap Belanda. Tapi adegan ini direpresentasikan dengan para penari, yang koreografinya saya percayakan kepada Chendra Panatan.

Semua cuplikan ini akan menjadi bagian dari opera utuh yang semoga dapat direalisasikan di tahun 2020, untuk merayakan 200 tahun Multatuli.

Orkestrasi pengiringnya juga cukup unik yang memberi warna cukup kompleks, yaitu gabungan dari piano, marimba (dan beberapa alat perkusi lain), flute dan cello.

Ini ada vlog saya sewaktu saya baru mulai menuliskan opera ini, awal Juli lalu https://www.vidio.com/watch/1423611